Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd
Kutipan dari tausiyah Ustaz Abdul Somad, via saluran resmi WhatsApp, Selasa (4/11/2025)
Dia bukan tidak sholat.
Dia bukan tidak puasa.
Dia bukan pula mengabaikan ibadah haji.
Dia adalah seorang hamba yang tampak tekun berzikir, rajin membangun masjid, dan beramal di hadapan manusia. Namun, di balik kerajinannya beribadah, tersimpan satu dosa yang tak bisa ditutup oleh sujud panjang atau tangisan di depan Ka’bah, yakni kezholiman terhadap sesama manusia.
Begitulah pesan tajam yang disampaikan Ustaz Abdul Somad dalam tausiyahnya. “Dia masuk neraka bukan karena tidak sholat, bukan karena tidak puasa, bukan karena tidak haji… Tapi karena zalim kepada manusia,” tegasnya.
Sebuah peringatan yang menembus hati — bahwa hubungan dengan Allah SWT bisa dipulihkan dengan tobat. Namun, hubungan dengan manusia menuntut tanggung jawab dan permintaan maaf.
Dosa yang Tidak Bisa Ditutupi Air Mata
Dalam Islam, dosa dibagi menjadi dua, yakni dosa kepada Allah (ḥuqūqullāh) dan dosa kepada sesama manusia (ḥuqūqul-‘ibād).
Yang pertama, bisa dihapus dengan istighfar, tobat, dan rahmat Allah. Namun, yang kedua, tidak akan diampuni kecuali setelah hak manusia itu dikembalikan atau dimaafkan oleh yang bersangkutan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik karena mencemarkan kehormatan atau hal lainnya — hendaklah ia meminta maaf kepadanya sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham. Saat itu, bila ia memiliki amal saleh, amal itu akan diambil untuk menebus kezaliman. Bila amalnya habis, dosa saudaranya akan dibebankan kepadanya.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini mengingatkan bahwa kezaliman sosial adalah utang yang tidak pernah kadaluarsa.
Ucapan yang menyakiti, fitnah yang menodai, hak orang yang diambil, atau hati yang dilukai, semua akan menuntut keadilan di hadapan Allah kelak.
Ketika Do’a Tak Lagi Bisa Menggapai
“Kalau dia sudah meninggal dunia,” lanjut Ustadz Somad, “kirimkan do’a,” tegasnya.
Sebab, ketika seseorang telah berpulang, kesempatan meminta maaf telah tertutup. Yang tersisa hanyalah kiriman do’a dan amal jariyah sebagai bentuk penebusan.
Namun, kiriman do’a bukan pengganti tanggung jawab. Ia hanyalah cahaya yang kita kirim dari jauh — sebuah pengakuan bahwa pernah ada luka yang ditinggalkan, dan kita ingin menebusnya dengan harapan rahmat Allah yang luas.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah SWT sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”
QS. An-Nisā’:48
Ayat ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah SWT, namun sekaligus memperingatkan bahwa ampunan itu terkait dengan kehendak-Nya — dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya bukan perkara ringan.
Ibadah Tak Seimbang Jika Hati Masih Menyakiti
Sering kali kita sibuk memperindah ibadah ritual, semisal menambah rakaat saat sholat sunnah, memperbanyak zikir, memperluas sedekah. Akan tetapi lupa memperbaiki akhlak. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak punya dirham dan harta.”
Beliau bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa sholat, puasa, dan zakat. Akan tetapi dia pernah mencaci maki orang lain, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul. Maka, kebaikannya diberikan kepada mereka. Jika kebaikannya habis sebelum dosa-dosa itu tertebus, dosa mereka akan dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim)
Inilah peringatan paling halus namun tegas: Ibadah tidak cukup tanpa keadilan dan kasih sayang terhadap sesama.
Menjadi Hamba yang Lembut, Bukan Hamba yang Lalai
Islam bukan sekadar agama ritual, tapi juga agama moral.
Ia menuntut keseimbangan antara hubungan vertikal (ḥablum minallāh) dan hubungan horizontal (ḥablum minannās).
Maka sebelum menutup hari dengan dzikir panjang, mari kita buka kembali hati kita, berlapang dada.
Siapa yang pernah kita lukai tanpa sadar? Siapa yang pernah kita rendahkan? Kita sakiti? atau kita tinggalkan tanpa keadilan?
Karena pada akhirnya, tangisan di samping Ka’bah tidak akan menyembuhkan luka yang kita tinggalkan di hati manusia, kecuali kita sendiri yang menutupnya dengan maaf dan kasih.
Pada setiap sujud, semoga Allah melembutkan hati kita.
Agar ibadah tak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga ruang untuk memperbaiki diri dan memperindah hubungan dengan sesama.
“Ya Allah, lembutkan hatiku untuk memaafkan dan meminta maaf. Jauhkan aku dari zholim terhadap siapa pun, dan jadikan setiap langkahku membawa rahmat, bukan luka.”
Karena di hadapan Allah SWT kelak, bukan panjangnya sajadah yang menyelamatkan, melainkan ringannya hati dari kezaliman kepada sesama manusia.
Apa lagi sesama jema’ah majelis ilmu atau jema’ah sholat wajib di masjid. Penting untuk kita saling meminta maaf — bukan merasa paling baik dan benar dalam beribadah. (KH/***)
