Humaniora
Beranda » Humaniora » Menangis yang Salah Alamat

Menangis yang Salah Alamat

(Foto ilustrasi - Shutterstock)
(Foto ilustrasi - Shutterstock)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Ada satu ironi yang kerap luput kita sadari dalam kehidupan beragama. Kita mudah menangis ketika tubuh sakit, ketika do’a kesembuhan terasa lama dijawab. Air mata jatuh deras saat dokter angkat bahu, saat obat tak lagi manjur.

Namun, hampir tak pernah kita menangis karena lalai mengingat Allah SAW. Padahal, kelalaian hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit raga.

Ustaz Abdul Somad pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun menghunjam: “Seringkali kita menangis meminta Allah mengangkat penyakit kita, tetapi jarang menangis meminta Allah mengangkat kelalaian kita dalam mengingat-Nya.” ujarnya via saluran resmi WashtApp, Senin ( 22/12-2025) 

Kalimat ini menampar kesadaran kita yang terlalu fokus pada yang tampak, namun abai pada yang hakiki.

Kumpulan Puisi Ramadan

Al-Qur’an telah lama memberi isyarat bahwa penyakit sejati bukan selalu soal fisik. 

Allah SWT berfirman: 

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ 

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.” 

QS. Al-Baqarah:10

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Hati yang lalai, keras, dan jauh dari zikir adalah penyakit sunyi yang tak terdeteksi alat medis. Ia tidak membuat tubuh terbaring, tetapi membuat jiwa kehilangan arah. Ironisnya, kita merawat tubuh dengan serius. Sementara, hati kita biarkan tanpa perhatian. 

Ironi kedua adalah cara kita memperjuangkan hidup. Kita bekerja keras, berkompetisi, bahkan saling menjatuhkan demi sesuatu yang tidak kita bawa mati. Jabatan, harta, pengaruh, dan popularitas, kita peluk mati-matian, seakan semua itu akan ikut masuk ke liang lahat. 

Ustaz Abdul Somad kembali

mengingatkan: “Jangan memperjuangkan mati-matian sesuatu yang tidak dibawa mati.”

Kematian, dalam Islam, adalah momen paling jujur. Ia menanggalkan seluruh atribut dunia. Yang tersisa hanyalah iman dan amal. Rasulullah SAW bersabda:

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

“Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarga, harta, dan amalnya. Dua kembali, satu tinggal bersamanya. Amalnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim) 

Para ulama dan sufi sejak dahulu telah mengingatkan bahaya keterikatan berlebihan pada dunia. Imam Al-Ghazali menyebut dunia sebagai ujian yang menipu, karena ia terasa dekat dan menggoda.

Sementara, akhirat tampak jauh dan abstrak. Padahal kematian lebih dekat daripada rencana kita esok hari. 

Maka, esai ini sejatinya bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, melainkan untuk menempatkannya pada porsi yang benar. 

Dunia di tangan, bukan di hati. Tubuh dirawat, tetapi hati lebih dijaga. Menangislah jika sakit, itu manusiawi.

Namun lebih manusiawi lagi jika kita menangis karena jarang sujud dengan khusyuk, karena Al-Qur’an hanya lewat di telinga, bukan menetap di jiwa.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang sejauh apa kita pergi, melainkan sejauh apa kita siap untuk pulang. (KH/***)