Humaniora
Beranda » Humaniora » Menjaga Diri di Tengah Gelombang Maksiat

Menjaga Diri di Tengah Gelombang Maksiat

(Foto ilustrasi - Istimewa)
(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar

Di era sekarang, peluang untuk tergelincir dalam kemaksiatan kian terbuka lebar. Dunia digital, hiburan tanpa batas, hingga gaya hidup konsumtif — semuanya menjadi ruang ruang rawan yang menyeret hati. 

Ponsel, bukan lagi sekadar berfungsi untuk silaturahmi via percakapan daring, melainkan banyak “pintu-pintu” dosa terbuka.

Namun, di situlah letak ujian sekaligus peluang untuk mendulang amal. Ustaz Adi Hidayat pernah menekankan, “Pahalanya berlimpah di saat-saat tidak mudah menghindari maksiat,”jelasnya dalam saluran resmi, via WA pada Sabtu (30/8/2025).

Mengapa demikian? Karena menjaga diri dalam kondisi fitnah zaman, ibarat menegakkan bara api di telapak tangan. Berat, tetapi justru bernilai tinggi di sisi Allah SWT. 

Kumpulan Puisi Ramadan

Al-Qur’an mengingatkan, bahwa mata, telinga, dan hati adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban: 

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra: 36) 

Artinya, setiap kali kita menahan pandangan dari sesuatu yang haram, menahan lisan dari ghibah atau fitnah, bahkan sekadar menahan jari dari menyebar konten dosa di media sosial—semuanya tercatat sebagai amal kebaikan. 

Rasulullah SAW pun bersabda: “Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

(HR. Muslim). 

Hadis ini menggambarkan bahwa orang beriman mesti siap menahan diri, melawan arus syahwat, dan mengekang hawa nafsu. Apa yang terasa mengekang di dunia, kelak akan menjadi kebebasan abadi di akhirat. 

Lebih dalam lagi, maksiat bukan sekadar pelanggaran ritual, melainkan luka pada jiwa. Imam Ibnul Qayyim menulis bahwa dosa itu meninggalkan titik hitam di hati. Semakin banyak dosa, semakin gelap hati itu hingga cahaya kebenaran sulit menembus. 

Sebaliknya, ketika seseorang istiqomah menjaga diri dari maksiat—meski di tengah derasnya godaan—maka hatinya akan bersinar, ringan untuk taat, dan dekat dengan Allah. 

Ujian zaman memang berat. Tapi justru dalam berat itulah letak keistimewaan. Sebagaimana firman Allah: 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

“Adakah orang yang taat beribadah pada waktu malam, bersujud dan berdiri, takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”

(QS. Az-Zumar: 9) 

Ayat ini menegaskan: orang yang tahu nilai menahan diri, yang paham makna menjaga kehormatan, jauh berbeda derajatnya dengan mereka yang lalai. 

Maka menjaga diri dari maksiat di zaman serba bebas ini bukan sekadar kewajiban, tapi sekaligus kehormatan. Ia adalah bukti cinta kepada Allah – seperti seorang kekasih yang enggan mengkhianati janji sucinya. (KH***)