Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.
(Sebagaimana dituturkan oleh Anne Y. Wachyuni, S.Pd. kepada penulis)
Dari pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja—raja besar Pajajaran—dianugerahi tiga orang putra-putri yang namanya terpatri kuat dalam sejarah Tatar Sunda serta perjalanan Islam di Nusantara.
Ketiganya adalah:
Putra sulung, Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana, pendiri Kesultanan Cirebon yang masyhur dengan gelar Ki Kuwu Sangkan Cirebon. Putri keduanya adalah Nyai Rara Santang atau Syarifah Mudaim, ibu dari Sunan Gunung Jati, salah seorang tokoh Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Adapun putra bungsunya adalah Raden Kian Santang atau Raja Sangara, sosok legendaris tanah Pasundan yang dikenal memiliki kesaktian luar biasa sekaligus berjasa dalam dakwah Islam di bumi Sunda.
Ada kalanya sejarah tidak lagi terasa sebagai kisah yang tersimpan jauh di belakang waktu. Ia hadir begitu dekat, seakan mengetuk perlahan dari balik aliran darah yang mengalir dalam diri. Demikianlah yang kurasakan selepas Lebaran 1446 Hijriah, ketika keluarga besar dari garis buyut berkumpul dalam sebuah silaturahmi panjang yang dipenuhi kenangan, cerita lama, dan serpihan masa silam.
Dari pertemuan itulah untuk pertama kalinya aku mendengar sebuah kisah yang membuat batinku larut dalam keheningan cukup lama. Konon, garis keturunan keluargaku tersambung kepada Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana, pendiri Kesultanan Cirebon yang dikenal dengan gelar Ki Kuwu Sangkan Cirebon, putra sulung Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.
Pada mulanya aku menganggap cerita tersebut tak lebih dari dongeng keluarga, sebagaimana banyak kisah turun-temurun yang hidup dalam tradisi masyarakat Sunda. Namun semakin banyak potongan cerita yang disampaikan para sesepuh, semakin terasa bahwa ada jejak sejarah yang tidak dapat begitu saja diabaikan.

Dalam pertemuan keluarga itu hadir pula sejumlah kerabat dari Sumedang, khususnya dari kawasan Puncak Manik. Para sepuh kemudian membuka kembali lembaran kisah lama mengenai seorang kuwu atau kepala desa di Puncak Manik pada masa lampau yang bernama Mad Enoh. Menurut penuturan mereka, Mad Enoh masih memiliki pertalian darah dengan garis keluarga buyutku.
Dari sanalah disebutkan bahwa di kawasan Puncak Manik terdapat situs bersejarah yang berkaitan dengan Eyang Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang. Mendengar nama itu disebutkan, ingatanku seketika melayang ke masa kecil.
Dahulu beberapa tetangga kerap mengatakan bahwa ibu dan nenekku berasal dari keturunan menak. Saat itu aku belum memahami makna sebenarnya dari sebutan tersebut. Yang kutahu, istilah itu merujuk pada keluarga terpandang dalam budaya Sunda.
Kini, setelah mulai mendengar berbagai kisah dari para sesepuh, semuanya terasa seperti kepingan-kepingan sejarah yang perlahan menemukan tempatnya kembali.
Rasa ingin tahuku semakin tumbuh ketika untuk pertama kalinya aku mengetahui nama lengkap buyutku yang tertera pada nisannya: M. Wikarta. Selama ini aku hanya mengenalnya sebagai Wikarta. Ketika kutanyakan arti huruf “M” tersebut, para sesepuh menjelaskan bahwa itu merupakan singkatan dari “Mas”, sebuah gelar yang pada masa lampau lazim digunakan oleh kalangan menak atau keluarga terpandang di tanah Sunda.
Sejak saat itu pikiranku seolah terusik. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan tanpa henti. Siapakah sesungguhnya leluhur kami? Dari mana bermula garis keturunan itu? Dan benarkah ada jejak Pajajaran yang mengalir dalam darah keluarga kami?

Jejak Pajajaran dan Nama Besar Prabu Siliwangi
Dalam sejarah maupun tradisi lisan masyarakat Sunda, nama Prabu Siliwangi menempati kedudukan yang sangat terhormat. Ia dikenang sebagai raja agung Kerajaan Pajajaran, kerajaan besar yang pernah berdiri megah di tanah Pasundan pada sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16.
Meskipun terdapat berbagai versi mengenai identitas historisnya, banyak sejarawan menghubungkan sosok Prabu Siliwangi dengan Sri Baduga Maharaja, raja besar yang berkuasa di Pakuan Pajajaran.
Bagi masyarakat Sunda, Prabu Siliwangi bukan sekadar tokoh kerajaan. Ia telah menjelma menjadi simbol kebijaksanaan, kewibawaan, dan kejayaan peradaban Sunda. Berbagai babad, cerita rakyat, hingga tradisi turun-temurun di Jawa Barat kerap mengaitkan sejumlah wilayah dengan garis keturunannya.
Salah satu tokoh paling terkenal dari garis tersebut adalah Sunan Gunung Jati, putra Nyai Rara Santang sekaligus cucu Prabu Siliwangi.
Selain itu terdapat pula Prabu Kian Santang atau Raden Sangara, putra bungsu Prabu Siliwangi. Dalam berbagai kisah rakyat Sunda, Kian Santang dikenal sebagai sosok yang sakti dan kemudian memeluk Islam serta berdakwah di tanah Pasundan. Hingga hari ini, namanya tetap hidup di antara sejarah, legenda, dan spiritualitas masyarakat Sunda.
Pangeran Walangsungsang dan Jejaknya di Sumedang
Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang merupakan tokoh yang mendirikan Cirebon melalui pembangunan sebuah perkampungan bernama Caruban pada tahun 1445. Kampung kecil itu kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan bercorak Islam. Setelah mendirikan Keraton Pakungwati pada tahun 1452, beliau menyerahkan kepemimpinan kepada keponakannya, Sunan Gunung Jati, yang kemudian memproklamasikan berdirinya Kesultanan Cirebon.
Dalam berbagai tuturan lisan masyarakat Sunda disebutkan bahwa Cakrabuana memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Sumedang serta kawasan lereng Gunung Tampomas. Salah satu kisah yang berkembang menyebutkan bahwa beliau memiliki seorang istri bernama Manik Maya, putri dari kalangan resi atau tokoh spiritual yang bermukim di kawasan pegunungan Tampomas.
Nama “Manik” terasa begitu menarik ketika dihubungkan dengan wilayah Puncak Manik di Sumedang. Entah sekadar kebetulan atau memang memiliki kaitan historis tertentu, masyarakat setempat hingga kini masih menyimpan berbagai cerita mengenai jejak para keturunan Pajajaran di kawasan tersebut.
Konon, beberapa situs peninggalan tua di Puncak Manik masih dianggap keramat oleh sebagian masyarakat. Tempat-tempat itu dipercaya menjadi bagian dari perjalanan spiritual sekaligus dakwah yang pernah berlangsung di tanah Sumedang.
Memang, sebagian kisah tersebut belum seluruhnya dapat diverifikasi secara akademis. Namun tradisi lisan Sunda memiliki kekuatan tersendiri dalam merawat ingatan kolektif masyarakat. Di tanah Pasundan, sejarah tidak selalu tersimpan dalam naskah-naskah kerajaan yang rapi. Ia sering kali hidup melalui cerita para sesepuh, makam-makam tua, gelar keluarga, serta adat-istiadat yang diwariskan secara senyap dari generasi ke generasi.
Menak, Gelar, dan Identitas yang Terlupakan
Dalam budaya Sunda, istilah menak merujuk kepada kalangan bangsawan atau keluarga terpandang. Sejak masa kerajaan hingga era kolonial, berbagai gelar digunakan sebagai penanda garis keturunan maupun kedudukan sosial seseorang.
Gelar seperti Raden, Tubagus, Eyang, bahkan penggunaan sebutan Mas di beberapa daerah tertentu, kerap menjadi petunjuk bahwa seseorang berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan kalangan elite tradisional Sunda.
Ketika mendengar nama “Mas Wikarta”, aku mulai memahami bahwa nama bukanlah sekadar panggilan. Nama adalah penanda sejarah yang nyaris tenggelam oleh waktu. Sering kali generasi masa kini hanya mewarisi sebutan, tanpa lagi mengenal akar yang melahirkannya.
Aku pun mulai mengerti mengapa dahulu orang-orang menyebut ibu dan nenekku sebagai keturunan menak. Barangkali memang ada rentang sejarah panjang yang selama ini tertidur dalam keluarga kami—sejarah yang perlahan terkubur oleh perjalanan zaman, pergantian generasi, dan hilangnya tradisi pencatatan silsilah.
Menelusuri Darah, Menemukan Jati Diri
Namun semakin jauh aku merenungkan semua ini, semakin kusadari bahwa menelusuri silsilah bukanlah semata-mata perkara kebanggaan terhadap darah bangsawan atau keturunan raja. Sebab setinggi apa pun martabat leluhur seseorang, kemuliaan manusia pada akhirnya tetap diukur dari akhlak dan amal yang ia lakukan hari ini.
Meski demikian, mengenali akar sejarah keluarga tetaplah penting. Dari sanalah seseorang memahami dari mana ia berasal, nilai-nilai apa yang diwariskan kepadanya, dan jejak-jejak kehidupan apa yang pernah ditempuh para leluhurnya.
Kini aku ingin benar-benar menapaki jejak itu. Aku ingin kembali mengunjungi Puncak Manik di Sumedang dan tanah Kesultanan Cirebon, mendengarkan lebih banyak kisah dari para sesepuh, menyaksikan langsung situs-situs yang dikaitkan dengan Pangeran Walangsungsang, Rara Santang, Kian Santang, dan Prabu Siliwangi. Aku ingin membuka kembali catatan-catatan keluarga yang tersisa, lalu menyusun ulang rantai silsilah yang nyaris terputus oleh waktu.
Siapa tahu, di balik nisan tua Mas Wikarta, tersimpan sebuah kisah panjang yang belum selesai dituturkan.
Dan mungkin benar, sejarah sejatinya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berdiam dalam sunyi, menunggu seseorang dari garis keturunannya datang kembali untuk menemukannya. (Depok, 29 Mei 2026)
