Humaniora
Beranda » Humaniora » Idul Adha dalam Perspektif Tasawuf: Memaknai Qurban melalui Perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Idul Adha dalam Perspektif Tasawuf: Memaknai Qurban melalui Perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

(Foto ilustrasi - Akizar)
(Foto ilustrasi - Akizar)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan. Dalam pandangan tasawuf, Idul Adha adalah perjalanan ruhani tentang bagaimana manusia belajar menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Allah. Qurban bukan hanya tentang darah dan daging, melainkan tentang apa yang rela dipotong dari dalam diri: ego, kesombongan, cinta dunia, dan keterikatan selain kepada-Nya. 

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah simbol tertinggi dari cinta yang tunduk kepada Tuhan. Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya, yang diuji bukan sekadar keberanian seorang ayah, tetapi kemurnian tauhidnya: apakah di dalam hatinya masih ada sesuatu yang lebih dicintai daripada Allah? 

Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu dengan begitu lembut namun mengguncang: 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ 

Menjaring Matahari, Mencari Mata Air 

Falammā balaga ma‘ahus-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu’mar(u), satajidunī in syā’allāhu minaṣ-ṣābirīn(a). 

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” 

(QS. As-Saffat : 102) 

Dalam tasawuf, dialog ini dipandang sebagai puncak adab spiritual. Ibrahim tidak memaksakan kehendak sebagai ayah, sementara Ismail tidak membantah keputusan Allah. Keduanya tenggelam dalam samudra ridha. Tidak ada perlawanan ego. Yang ada hanyalah kepasrahan total kepada Yang Maha Memiliki. 

(Foto ilustrasi - Akizar)
(Foto ilustrasi – Akizar)

Hakikat Qurban Menurut Tasawuf 

Atep, Ismed Sofyan hingga Fans Club MU dan Barca Dukung Anak Pejuang Kanker di Cepak Bola

Para sufi memandang bahwa hewan qurban hanyalah simbol lahiriah. Qurban sejati adalah menyembelih “nafsu kebinatangan” dalam diri manusia. Sebab sering kali yang membuat manusia jauh dari Tuhan bukan kurangnya ibadah, tetapi besarnya ego.

Ada sifat-sifat dalam diri yang harus “disembelih”:

kesombongan yang merasa lebih suci,

iri hati terhadap kebahagiaan orang lain,

cinta dunia yang berlebihan,

Pemerintah Tetapkan Iduladha 1447 Hijriah Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026

amarah yang tidak terkendali,

riya dan haus pujian,

serta keterikatan kepada makhluk melebihi cinta kepada Allah.

Dalam tasawuf, inilah makna terdalam dari firman Allah:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

(QS. Al-Hajj: 37) 

Artinya, Allah tidak membutuhkan sembelihan itu. Yang Allah lihat adalah hati yang rela menyerah. Sebab qurban sejati bukan tentang apa yang dipotong oleh tangan, tetapi apa yang dipotong dari dalam jiwa. 

(Foto ilustrasi - Akizar)
(Foto ilustrasi – Akizar)

Ibrahim: Jalan Cinta yang Membakar Kepemilikan 

Bagi kaum sufi, Nabi Ibrahim adalah lambang seorang pecinta Tuhan yang telah membakar seluruh rasa memiliki. Bahkan terhadap anak yang sangat lama dinantikannya.

Ismail bukan sekadar anak. Ia adalah harapan, cinta, dan penyejuk mata di usia tua. Namun justru sesuatu yang paling dicintai itulah yang diuji. Karena sering kali hijab terbesar antara manusia dan Tuhan bukanlah kebencian, melainkan cinta yang berlebihan kepada selain-Nya.

Tasawuf mengajarkan:

Allah kadang meminta kita melepaskan sesuatu bukan karena Dia ingin mengambilnya, tetapi karena Dia tidak ingin hati kita diperbudak olehnya.

Maka Ibrahim mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya mengucap “La ilaha illallah,” tetapi berani menanggalkan segala sesuatu yang diam-diam menjadi “tuhan” dalam hati. 

Ismail: Keikhlasan Seorang Hamba 

Nabi Ismail dalam perspektif tasawuf adalah simbol jiwa yang telah mencapai maqam sabar dan ridha. Ia tidak memberontak ketika dirinya menjadi bagian dari ujian. Ia sadar bahwa hidup bukan milik dirinya sendiri.

Di sinilah pelajaran besar tentang fana — lenyapnya ego di hadapan kehendak Allah.

Ismail seakan mengajarkan bahwa:

“Tubuh ini milik Tuhan. Jika Dia meminta kembali apa yang Dia titipkan, maka seorang hamba hanya bisa tunduk.”

Betapa banyak manusia ingin dekat kepada Allah, tetapi masih mempertahankan egonya. Masih ingin kehendaknya yang menang. Masih kecewa ketika takdir tak sesuai harapan. Sedangkan Ismail mengajarkan kepasrahan yang utuh. 

Qurban di Zaman Sekarang 

Hari ini, mungkin Allah tidak meminta kita menyembelih anak seperti Ibrahim. Tetapi Allah meminta kita menyembelih banyak hal lain:

memotong keserakahan saat mencari harta,

menyembelih gengsi demi kerendahan hati,

mengorbankan waktu demi ibadah,

menahan amarah demi kasih sayang,

mengalahkan hawa nafsu demi menjaga diri dari dosa. 

Sebab, qurban terbesar sering kali bukan kehilangan sesuatu yang kita miliki, melainkan melepaskan sesuatu yang kita cintai demi ketaatan kepada Allah.

Dalam dunia tasawuf, semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin ia ringan melepaskan dunia. Karena ia sadar: semua hanyalah titipan. Tidak ada yang benar-benar milik manusia. 

Idul Adha sejatinya adalah madrasah keikhlasan. Ia mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim mengajarkan pengorbanan. Nabi Ismail mengajarkan kepasrahan. Dan keduanya mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan bukanlah jalan memperturutkan ego, melainkan jalan penyerahan diri sepenuhnya. 

Maka, setiap kali gema takbir berkumandang pada Idul Adha, sesungguhnya yang dipanggil bukan hanya tangan untuk berqurban, tetapi juga hati untuk bertanya:

“Apa yang selama, aku cintai lebih daripada Allah?”

Dan mungkin, di situlah awal perjalanan tasawuf dimulai. (Depok, 25 Mei 2026)