Humaniora
Beranda » Humaniora » Monolog Pada Kenyataan Dalam Koridor Bersyukur

Monolog Pada Kenyataan Dalam Koridor Bersyukur

(Foto ilustrasi - Dreamtime.com)
(Foto ilustrasi - Dreamtime.com)

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd 

Ketika aku diremahkan, dimaki, dan dibilang pecundang — baik dalam urusan finansial maupun keilmuan agama, aku memilih tidak melawan dengan kata yang menyakitkan apalagi amarah. 

Mengalah, bukan berarti kalah. Sebab aku tahu, tidak semua luka perlu dibalas, dan tidak setiap hinaan layak dijawab. 

Diam-diam aku bercermin pada beningnya kaca di senyap malam, bukan pada riak gelombang pasang yang gaduh oleh tepuk tangan dunia. 

Aku bertanya pada diri sendiri: Siapa aku? Untuk apa aku dihadirkan di sini? Dan bagaimana aku harus tetap hidup, bahkan bertahan—bersama mereka yang merasa lebih tinggi karena harta dan merasa lebih mulia karena sepotong ilmu? 

Kumpulan Puisi Ramadan

Di hadapanku, terbentang kesenjangan yang nyata. Ada yang berbicara agama dengan nada tinggi, namun langkahnya sering tersandung oleh kesombongan.

Naik ke mimbar tak ada tema, maka mengalirlah kalimat yang bermuara menyakiti saudaranya sendiri.  

Ada pula yang hartanya berlapis, tapi empatinya kerap terkelupas. Mereka memandang dari atas, seolah rezeki adalah bukti kemuliaan, dan kefasihan berujar dalil adalah jaminan keselamatan. Padahal Allah telah mengingatkan dengan sangat terang: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

(QS. Al-Hujurat: 13) 

Ayat itu tidak menyebut saldo, jabatan, atau gelar. Tidak pula menyebut siapa yang paling sering tampil di mimbar. Taqwa—sesuatu yang sunyi, tersembunyi, dan sering tak terbaca oleh mata manusia, justru menjadi ukuran langit. 

Aku menyadari, sebagian manusia menjadikan ilmu agama sebagai tangga untuk meninggi, bukan jembatan untuk merendah. Ilmu yang seharusnya melunakkan hati, justru mengeraskannya. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan: 

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang bodoh, atau untuk menarik perhatian manusia, maka ia di neraka.”

(HR. Tirmidzi) 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Betapa halus, namun pedih peringatan itu. Ilmu yang tak disertai adab hanya akan melahirkan keangkuhan yang rapi, tampak santun dan saleh di luar, namun kosong di dalam. 

Begitu pula harta. Ia amanah, bukan mahkota. Ujian bagi yang memilikinya tak kalah berat dibanding mereka yang kekurangan. Allah berfirman: 

Allah SWT berfirman: 

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا 

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” 

QS. Al-Kahf:46 

Aku belajar menerima bahwa diriku mungkin tak setara dalam matematika dunia. Namun aku berusaha agar tidak timpang dalam timbangan akhirat. 

Jika aku belum kaya harta, semoga aku tidak miskin syukur. Jika ilmuku belum luas, semoga aku tidak sempit hati. Karena Nabi SAW bersabda: 

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim) 

Maka, aku memilih berjalan perlahan. Menyusun hidup dengan sabar, menimba ilmu dengan tawadhu — dimana aku pernah alpa. 

Ketika ingin menempuh pendidikan formal dengan keilmuan disiplin tertentu, alhamdulillah aku belum punya dana. Saat ada dana lebih, aku tak punya waktu. 

Kini saatnya aku masih diberikan kesempatan. Maka aku berjalan, tampa mendongak, dan menerima takdir tanpa kehilangan ikhtiar — bersama para teman yang saling menguatkan satu dan lainya.

Bukan berjalan di atas illusi, apa lagi hanya halusinasi dan hoaxs. Kami bergandengan tangan dan bersaing hanya untuk mencari ridho-Nya. Bukan untuk meninggikan menara hati, meraih pujian tepuk tangan dunia. 

Aku tahu, Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. Dan barangkali, dalam diam dan diremehkan itulah, Allah sedang mengajariku pelajaran paling mahal: Tentang keikhlasan, tentang keteguhan, dan tentang iman yang tidak bergantung pada pujian manusia. 

Sebab pada akhirnya, aku tak ingin dikenal sebagai siapa-siapa di hadapan manusia, jika aku masih tercatat sebagai hamba di hadapan-Nya. (KH/***)