Oleh: Imam M.Nizar
Ada yang menarik dan menggugah dari kutipan narasai ustaz Adi Hidayat, dalam dakwah harianya via saluran resmi WhatsApp pada Minggu (6/9/2025).
Kalau tidak bisa bersaing dengan orang sholeh dalam memperbanyak amal, kata ustaz muda itu, ” Maka bersainglah dengan para pendosa dalam memperbaiki diri, ” kalimat tersebut terkesan sederhana, akan tetapi muatannya dalam.
Sekilas, petikan itu tampak sederhana. Namun bagi jiwa yang peka, ia adalah pintu renungan yang dalam—terutama bagi mereka yang kadang terperangkap dalam rasa ujub itu — merasa paling tahu, paling alim, paling beramal.
Sungguh, ujub adalah penyakit batin yang lebih berbahaya daripada sekadar dosa yang tampak. Sebab dosa mendorong manusia untuk bertobat, sedang ujub menutup pintu taubat itu sendiri. Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
Allah SWT berfirman:
اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
“(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
QS. An-Najm:32
Di sinilah letak keindahan kalimat itu. Persaingan bukan semata soal kuantitas amal—siapa yang paling banyak bersedekah, siapa yang paling rajin shalat malam.
Persaingan sejati justru berada di ruang senyap, sunyi hati: Siapa yang paling ikhlas mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah, lalu bergegas memperbaiki diri, sekalipun ia adalah pendosa besar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Dalam horizon sufisme, kesadaran ini adalah puncak perjalanan spiritual: Ma’rifat an-nafs (mengenali diri). Seorang arif tak lagi sibuk menimbang amalnya, tetapi justru sibuk menghisab kekurangan dirinya. Semakin dalam ia menyelami lautan makna, semakin ia melihat bahwa kebaikan apa pun yang lahir dari dirinya sejatinya hanyalah titipan Allah, bukan miliknya.
Imam Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya’ Ulumuddin: “Barang siapa melihat kebaikan pada dirinya, maka ia telah buta dari hakikat. Sebab hakikat amal hanyalah taufik dari Allah.”
Maka, kalimat Ustaz Adi Hidayat itu bukan sekadar motivasi ringan, melainkan tamparan halus bagi hati yang terlampau sibuk mengukur amal orang lain. Karena bisa jadi, di hadapan Allah, seorang pendosa yang menangis dalam taubatnya lebih tinggi derajatnya dibanding seorang alim yang merasa cukup dengan ilmunya.
Dan bukankah Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, melainkan hati dan amal kita (HR. Muslim)?
Di titik inilah persaingan sejati itu berlangsung: bukan di panggung popularitas amal, melainkan di medan sunyi pertaubatan. (KH/***)
