KABARHIBURAN.id – Momentum bulan puasa Ramadan, banyak masyarakat muslim di Indonesia berlomba-lomba berbuat kebaikan.
Ada yang berbagi takjil gratis setiap menjelang berbuka. Ada yang berbuka bersama anak anak yatim piatu dan kaum dhuafa.
Ada juga yang membuka kegiatan “spontan” seperti menyelenggarakan pesantren kilat di surau, mushola atau masjid. Karena, di bulan suci Ramadan ganjaran pahalanya berlipat ganda.
Uniknya, kegiatan pesantren kilat yang kerap diadakan oleh penyelenggara di mushola atau masjid, ada juga pelaksanaanya di gedung sekolah. Ini lah semaraknya Ramadan.
Seperti di SMP Negeri 9 Bandung. Gedung sekolah yang terletak di Jalan Semar No. 5, Kecamatan Cicendo, Bandung, Jawa Barat, menyelenggarakan pesantren kilat khusus untuk peserta didiknya dan tak dipungut biaya.
Acara tersebut dilaksanakan selama 10 hari, mulai tanggal 6 – 19 Maret 2025. Peserta pun membludak, kurang lebih terdiri 30 kelas.

Mengambil tema “Menjadi Pelajar Cerdas. Menjaga Ibadah dan Berakhlak Mulia”, tema ini merujuk pada maraknya belakangan ini kenakalan remaja cukup mencemaskan dan menjadi salah satu masalah sosial di Indonesia.
Kenakalan remaja seperti tawuran, pergaulan bebas, dan geng motor sering terjadi yang mengarah pada tindakan radikalisme dan premanisme.
Hal ini membuat masyarakat resah. Karena tak jarang melukai masyarakat yang tak bersalah dan banyak yang terlibat dalam perbuatan tak baik itu, banyak datangnya dari kalangan remaja di bawah umur menjadi pelakunya.
Salah satu penyebab maraknya kenakalan remaja ini adalah lemahnya iman dan ketaqwaan pada Allah SWT. Dengan dilaksanakannya kegiatan pesantren kilat ini, diharapkan peserta dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Acara dimulai dengan pembukaan dari pembawa acara, lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta perkenalan dari para pemateri yaitu dari para alumni Gontor dan MQC (Muhibbul Quran Community).
Dalam acara pembukaan, Kepala Sekolah SMPN 9 Bandung, Hj Suciati Spd, M.Pd menyampaikan sambutan dan harapannya.

“Seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian acara pesantren kilat dengan baik dan dapat menerapkan ilmu yang didapat ke dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pada sesi pertama di setiap hari, materi diisi oleh pembelajaran membaca Al-Quran, sebagai pemateri adalah ustaz dan ustazah dari MQC (Muhibbul Quran Community), setiap kelas dibimbing oleh satu orang guru.
Materi kedua, mengenai soal akidah, akhlaq, hadits, mahfudzot dan bahasa Arab yang diberikan oleh para alumni pesantren Gontor.
Para peserta dengan baik memahami dan sesekali menulis materi yang disampaikan. Diharapkan materi-materi tersebut dapat menunjang kehidupan mereka di masa depan.
Selain pembekalan lewat materi, para peserta juga diajak untuk melakukan shalat sunnah Dhuha berjamaah yang dilaksanakan di aula bagi perempuan dan di masjid sekolah bagi laki-laki.
Shalat Dhuha memiliki berbagai manfaat seperti membuka pintu rezeki, dibangunkan rumah di surga, dan pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah.

Dengan membiasakan shalat sunnah, para peserta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyempurnakan shalat fardu, dan mendapatkan keberkahan hidup.
Di akhir acara, siswa yang berprestasi dapat menjawab pertanyan kuis mendapatkan hadiah mushab al qur’an dari MQC.
Sementara itu, di Mushola Nur Iman tepatnya di Perumahan Vila Pamulang, kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, kegiatan pesantren kilat pun diselenggarakan saban tahun di bulan suci Ramadan.
Pesertanya, rata-rata dari anak usia anak 5 tahun hingga 11 tahun. Peserta dipungut biaya sebesar Rp 40.000. Dana pendaftaran tersebut, di akhir acara akan dikembalikan dalam bentuk bingkisan dan hadiah lainnya.
“Nilainya dijamin, lebih dari uang pendaftaran,” kata ustaz M.Alif Al Jawi selaku mentor yang didampingi ustazah Budi Wahyuni dalam pelaksanaan pesantren kilat di Mushola Nur Iman.
Dalam kegiatan pesantren kilat di Nur Iman, berlangsung hanya dua hari saja. Materi yang diajarkan disesuaikan oleh umur peserta yang ikut di sana. Pun, ada “game”.
Mereka yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar dapat hadiah menarik. “Kali ini, masing masing peserta mendapatkan cendera mata, berupa, satu kotak dus mangkok keramik,” ujar ustazah Budi Wahyuni.
Pelaksanaan pesantren kilat merupakan salah satu cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan, para peserta tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga pengalaman spiritual yang berharga.
Semoga Allah membalas segala kebaikan dan menjadikan pesantren kilat ini sebagai ladang amal yang bermanfaat bagi semua yang terlibat. (KH/Anne Y. Wachyuni/Akizar)
