Humaniora
Beranda » Humaniora » Setiap Sosok Ada Masanya: Meneladani Jejak Abadi Para Pahlawan 

Setiap Sosok Ada Masanya: Meneladani Jejak Abadi Para Pahlawan 

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd 

Senin 10 November 2025,  sekitar pukul 08.00 WIB, langit cerah di atas Istana Negara, menjadi saksi sejarah ketika Presiden Prabowo Subianto dan wakil Presiden Gibran Rakabumi Raka — disaksikan oleh para menteri kabinet merah putih, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh sosok almarhum dan almarhumah yang semasa hidupnya telah menorehkan jejak perjuangan demi kemaslahatan bangsa dan negara. 

Mereka datang dari latar perjuangan yang berbeda, namun bertemu dalam satu titik, yakni pengabdian yang tak kenal lelah untuk Indonesia. 

Di antara nama-nama yang diumumkan, terpanggil sosok yang pernah menghiasi bab-bab penting dalam perjalanan republik Indonesia yang kita cintai ini, di antara ada nama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), H.M. Soeharto, dan Marsinah.

Mereka mewakili wajah-wajah Indonesia dalam keberagaman perjuangan, Spiritual, politik, hingga kemanusiaan. 

[Cerpen] Lelaki Galau Berjalan Sepi di Tengah Keramaian

Gus Dur Penjaga Nur Kebangsaan dan Pahlawan Kemanusiaan 

Nama KH. Abdurrahman Wahid, kelahiran Jombang  7 September 1940, nyaris tak pernah lepas dari kata toleransi, keadilan, dan kemanusiaan. 

Beliau yang wafat pada 30 Desember 2009 ini dikenal oleh sosok gen milenial saat itu dan gen gen sebelumnya dengan gaya yang khas dalam setiap penampilannya. 

Dalam sejarah panjang perjuangannya, Gus Dur,  yang mendulang ilmu di Al- Azhar, Mesir ini tak hanya dikenal sebagai Presiden keempat RI.

Akan tetapi lebih dari itu — seorang kyai pembaharu, intelektual muslim yang menyatukan agama dengan nilai-nilai kebangsaan.

[Cerpen] Ketika “Tangan” Tak Sampai

Ia mengajarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan sekadar dogma, melainkan energi kasih yang menggerakkan persaudaraan lintas iman dan budaya yang bersinergi. 

Dalam setiap langkahnya, Gus Dur memaknai perjuangan bukan hanya di medan politik, melainkan dalam memperjuangkan kemanusiaan yang beradab.

Ia pernah berkata, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, kamu adalah manusia yang berguna.”

Pernyataan Gus Dur, seperti apa yang ada dalam hadis Nabi Muhammad SAW. 

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” Hal ini, menekankan pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Sesuatu yang benar, kebaikan tidak hanya terbatas pada ibadah pribadi. Akan tetapi juga tentang, bagaimana seseorang dapat memberikan manfaat untuk sesama — melalui ilmu, tenaga, atau bahkan senyuman tulus, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.  

Maka wajar, bila gelar kepahlawanan nasional disematkan — terasa bukan penghormatan semata.  Tetapi penegasan, bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari jabatannya, melainkan dari seberapa dalam ia mencintai bangsa dan negaranya. 

H.M. Soeharto Dari Medan Juang ke Istana, Jejak Panjang Berbab-bab Tak Tuntas Dibaca 

Haji Muhammad Soeharto, Presiden kedua Indonesia ini, adalah sosok yang tak bisa lepas dari dua wajah sejarah di republik ini.

Sebagai pemimpin Orde Baru, lelaki kelahiran Yogyakarta 8 Juni 1921 ini, dikenal kuat dalam membangun stabilitas, membuka ruang modernisasi, dan menegakkan kedaulatan ekonomi nasional. 

Namun, di sisi lain, perjalanan kekuasaannya juga menyisakan “catatan kaki” panjang, tentang demokrasi dan kebebasan yang “terpasung” — suasana yang berbeda pada kehidupan alam demokrasi sekarang ini. 

Kini, lewat penganugerahan gelar pahlawan nasional, bangsa seolah diajak untuk menatap sosok Soeharto dengan kacamata lebih jernih, yakni melihat perjuangannya di masa revolusi fisik, ketika ia mengangkat senjata demi kemerdekaan — sekaligus memahami kompleksitas perannya dalam menjaga arah republik ini di masa-masa sulit saat itu.

Jika bukan kebijakannya, mungkin kita hidup di alam atmosfer ideologi komunis. 

Merujuk dalam Al-Qur’an, Allah berfirman. 

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً  ۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا ࣖ   ۔ 

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Tuhanmu Maha Melihat.”

QS. Al-Furqān:20 

Mungkin, di sanalah letak pelajaran sejarah. Bahwa, setiap pemimpin adalah ujian bagi bangsanya, dan sebaliknya, bangsa pun diuji untuk adil dalam menilai sejarah. 

Terkait, adanya pro dan kontra mengenai gelar tersebut, Mbak Tutut menyatakan bahwa hal tersebut wajar saja, asalkan tidak ekstrem. 

Ia juga menekankan pentingnya mengambil contoh-contoh yang baik dari ayahnya, “Saya ucapkan banyak terimakasih kepada Presiden Prabowo Subianto, saya yakin ia mendengar aspirasi dari masyarakat dan mengetahui, apa yang dikerjakan Pak Harto, saat beliau memimpin,” ungkapnya.

Marsinah: Suara Gemuruh Pabrik yang Tak Pernah Padam 

Lantas, ada Marsinah, perempuan buruh dari Sidoarjo, kelahiran Nganjuk 10 April 1969 ini — suaranya lantang menggema hingga ke ruang-ruang keadilan.

Ia bukan pemimpin besar, bukan tokoh politik, bukan pula pejabat. Akan tetapi, wanita yang wafat pada 8 Mei 1993 ini keberaniannya menuntut hak-hak pekerja, menjadikannya simbol perlawanan terhadap ketidakadilan struktural.

Dalam diamnya yang abadi, Marsinah berbicara lantang tentang harga diri kemanusiaan. 

Penganugerahan gelar pahlawan untuknya bukan hanya bentuk pengakuan, tetapi peringatan bagi bangsa ini. Bahwa, perjuangan tak selalu berseragam, tak selalu bersenjata, dan tak selalu berada di mimbar dalam corong mikrofon yang selalu bergema.

Terkadang, perjuangan hadir di pabrik-pabrik yang bising, di tengah tangan-tangan yang lelah, namun tetap menggenggam harapan. 

Pahlawan Tak Pernah Mati 

Setiap nama yang diumumkan hari ini, oleh Presiden Prabowo Subianto membawa narasi perjuangan yang tak tunggal. Ada yang pernah dipuja, ada pula yang sempat diperdebatkan.

Namun, sebagaimana sejarah, waktu punya cara sendiri untuk menyembuhkan luka dan menyingkap tabir hikmah. 

Di balik penganugerahan ini, bangsa seolah diajak merenung. Bahwa, kepahlawanan bukan soal kesempurnaan dari sosok tersebut,  melainkan keberanian untuk memberi makna dalam keterbatasan.

Bahwa, setiap perjuangan, sekecil apa pun, akan menjadi cahaya bila diniatkan untuk kemaslahatan bersama.

Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang sudah saya tulis di atas — korelasinya dalam banysk pernyataan Gus Dur. 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) 

Dan pagi ini, di bawah langit bulan November yang biru — biasanya kerap diguyur hujan sepuluh nama itu telah menjadi lentera bangsa — mengingatkan kita bahwa Indonesia berdiri karena cinta, berlanjut karena pengorbanan, dan akan abadi karena do’a-do’a mereka yang telah mendahului. (KH/***)