KABARHIBURAN.id – Rumah duka keluarga almarhumah penyanyi dangdut Yunita Ababil dan suaminya, Aliq Ababil, pada Minggu (24/8/2025), dipenuhi doa dan kenangan. Acara takziah itu seolah menyatukan dua momentum: 40 hari kepergian Yunita, dan 7 hari wafatnya sang suami.
Namun suasana tidak hanya dilingkupi kesedihan. Di balik isak tangis, hadir pula kehangatan persaudaraan. Para sahabat lama, sesama seniman dangdut, berkumpul bukan sekadar untuk mengenang, melainkan juga merajut silaturahmi yang pernah terjalin erat.
Di antara yang hadir tampak Evie Tamala, Rita Sugiarto, Hendro Saky, Eko Saky, Imron Sadewo (adik mendiang Didi Kempot), serta sejumlah artis dangdut lainnya.
Evie Tamala yang memimpin lantunan sholawat mengaku memiliki ikatan batin yang kuat dengan keluarga Ababil.

“Awal karier saya dari sini. Mereka sudah seperti keluarga sendiri,” kenang Evie yang populer lewat lagu Selamat Malam, Cinta Ketok Magic dan Dokter Cinta.
Evie bahkan menyimpan penyesalan, karena saat Yunita berpulang ia tak sempat datang. Dalam kesempatan itu pun Evie Tamala memimpin melantunkan sholawat — membuat suasana semakin hikmat. Suara yang tak asing di atas panggung dan di layar kaca itu, kini benar benar nyata ada di tengah tengah keluarga almarhum. Suara khas Evie begitu syahdu.
Rita Sugiarto pun larut dalam suasana. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menuturkan betapa sulitnya melepas sahabat seperjuangannya itu.
“Rasanya seperti mereka masih ada. Yunita dan Aliq orang baik, penuh ketulusan. Dunia dangdut benar-benar kehilangan,” katanya lirih.

Jejak Karier Pasangan Ababil
Nama Yunita Ababil mulai dikenal luas di era 1990-an. Dengan suara khas dan penampilan panggung yang “slow energik,” ia menjadi salah satu bintang dangdut yang diperhitungkan.
Lagu-lagu yang ia bawakan bernuansa dangdut klasik, seperti lagu Trauma, Maha Cinta, Ada Dia dan Diva Dangdut — membuatnya digemari di panggung hiburan rakyat maupun penampilannya di layar kaca.
Sementara itu, Aliq Ababil, selain dikenal sebagai suami sekaligus partner setia Yunita, juga memiliki peran penting di balik layar.

Ia sebagai arranger yang handal bagi racikan musik dangdut untuk lagu lagunya buat sang istri. Dan, kerap ia pun menjadi pengatur strategi sekaligus manajer yang mengantarkan istrinya menembus persaingan dunia hiburan.
Bersama, keduanya dikenal sebagai pasangan yang solid—baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi para sahabatnya, pasangan ini bukan hanya sekadar rekan kerja, tetapi juga saudara. Kehadiran mereka di dunia dangdut menghadirkan warna kebersamaan.
“Yunita dan Aliq itu selalu terbuka, ringan tangan, suka menolong siapa saja,” kenang Hendro Saky.
Kenangan yang Menyatu
Acara takziah itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar doa. Ia berubah menjadi perayaan kenangan—tentang perjalanan karier, persahabatan, dan arti sebuah keluarga besar bernama dangdut.
Kini, Yunita dan Aliq memang telah tiada. Namun di setiap alunan lagu, di setiap panggung yang dipenuhi cahaya, jejak langkah mereka akan tetap terasa. Karena dalam dunia musik, kepergian bukan berarti kehilangan, melainkan lahirnya kenangan yang abadi. (KH/Akizar)
