Humaniora
Beranda » Humaniora » Tetap Baik Meski Diperlakukan Tidak Baik

Tetap Baik Meski Diperlakukan Tidak Baik

(Foto ilustrasi - Istimewa)
(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar

“Menjadi orang baik itu susah. Namun, ada yang lebih susah: menjadi tetap baik sekalipun diperlakukan tidak baik.” Kutipan tersebut dari Ustaz Adi Hidayat lewat saluran resminya, via WA pada Sabtu 30 Agustus 2025. 

Merujuk dari kutipannya itu, sebenarnya kalimat tersebut terdengar sederhana, akan tetapi sesungguhnya ia menyimpan muatan hidup yang berat. 

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini,  kita sering berjumpa dengan wajah-wajah yang ramah di depan, namun menusuk di belakang. 

Kita kadang dikhianati, difitnah, atau disakiti oleh orang-orang yang justru pernah kita tolong. Saat itulah, muncul pertanyaan di hati dan sangat manusiawi,  “Apakah aku masih harus tetap berbuat baik?” 

Kumpulan Puisi Ramadan

Jawaban Islam jelas: iya. Karena kebaikan seorang mukmin bukan ditakar oleh perlakuan manusia, melainkan oleh keikhlasannya di hadapan Allah. 

Allah SWT berfirman di QS. Fussilat, ayat 34 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.” 

Ayat ini mengajarkan pada kita sebuah prinsip emas: Jangan biarkan keburukan orang lain menghapus kebaikan dalam diri kita. Justru, dengan tetap bersabar, memaafkan, dan memberi kebaikan, kita menaklukkan kebencian dengan cinta, dan permusuhan dengan persaudaraan dalam koridor rahmat-Nya. 

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik. Ketika beliau dihina, dilempari batu, bahkan diludahi, beliau tidak pernah membalas dengan amarah. Di Thaif, tubuh beliau berlumuran darah karena dilempari anak-anak kecil atas perintah orang dewasa. Namun, doanya bukan kutukan, melainkan permohonan ampunan: 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

(HR. Bukhari dan Muslim) 

Inilah puncak akhlak seorang Nabi: tetap baik, meski diperlakukan sebaliknya. 

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: 

“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam perkelahian, melainkan orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

(HR. Bukhari dan Muslim) 

Pesan ini menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot atau gengsi, tetapi pada kendali hati. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Hidup modern penuh dengan gesekan, baik di tempat kerja, media sosial, maupun lingkungan sekitar. Godaan untuk membalas keburukan dengan keburukan selalu ada. Tetapi justru di titik itulah, kualitas iman diuji. 

Menjadi baik saja sudah berat. Tetapi menjadi tetap baik meski disakiti adalah mahkota kemuliaan seorang mukmin. Ia menuntut kesabaran, kelapangan dada, dan keyakinan penuh bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun. 

Karena sejatinya, kebaikan bukanlah refleksi perlakuan orang lain, melainkan cermin hubungan kita dengan Allah. Dan barang siapa bersabar, tetap baik, dan menyerahkan urusannya kepada Allah, maka kelak ia akan menuai kemuliaan yang tidak dapat diberikan oleh manusia mana pun. (KH***)