Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd
Sebagai manusia biasa, ada waktu waktu ketika kita merasa langkah kaki tertatih. Segala sesuatu yang kita susun rapi seakan runtuh satu per satu, dan doa yang dipanjatkan tak kunjung diijabah.
Dalam sunyi itu, menurut para ulama, sesungguhnya Allah sedang mengajarkan makna paling lembut tentang takdir dan pengharapan.
“Nasibmu telah ditulis oleh tinta cinta-Nya. Kemudian disegel dengan rahmat-Nya. Jadi tak perlu takut, percayakanlah dirimu kepada-Nya dan berharaplah pada segala ketetapan-Nya,” tutur Ustaz Abdul Somad dalam salah satu tausyiahnya via saluran resmi WhatsApp, Selasa (21/10/2025).
Ungkapan itu meneduhkan hati, menyadarkan bahwa setiap garis kehidupan telah tersusun dalam lauhul mahfuzh, bukan sebagai takdir yang menakutkan, melainkan sebagai manifestasi kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Sebab tak ada satu pun peristiwa, sekecil apa pun, yang luput dari ilmu dan kasih-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an.
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”
QS. Al-Ḥadīd:22
Maka, setiap langkah manusia adalah bagian dari kisah cinta Ilahi yang ditulis dengan penuh hikmah. Hanya saja, kita sebagai manusia sering kali ingin tahu akhir cerita sebelum waktunya tiba.
Padahal, tugas kita bukan menebak, melainkan percaya, bahwa di balik setiap takdir, tersimpan maksud baik yang mungkin belum dimengerti hari ini.
Namun, percaya pada takdir bukan berarti berhenti berdo’a. Sebab do’a adalah jembatan antara kelemahan manusia dan kekuasaan Allah.
Dalam dimensi spiritual Islam, do’a bukan sekadar permintaan, tetapi pengakuan paling jujur bahwa manusia tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.
“Yang paling penting dari do’a itu adalah pengakuan bahwa kita lemah dan butuh Allah. Soal hajatmu terkabul atau tidak, itu tidak penting, Allah sudah tahu. Kalau sudah begitu, baru berlaku kaidah: Do’a adalah ruhnya ibadah,” terang Gus Baha dalam kutipan tausiyahnya, di hari yang sama. Selasa (21/10/2025)
Kedua pesan ulama ini berkelindan menjadi satu makna utuh: Bahwa, hidup seharusnya dijalani dengan pasrah yang aktif, berusaha sekuat tenaga, namun tetap tunduk pada kehendak-Nya.
Sebab sejatinya, do’a bukanlah alat untuk mengubah takdir, melainkan untuk melembutkan hati agar mampu menerima takdir dengan lapang dada.
Rasulullah SAW bersabda:
“Do’a adalah ibadah.”
(HR. Tirmidzi, no. 2969)
Dan, di ayat lain, Allah menyeru dengan kasih sayang-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
QS. Gāfir:60
Begitulah, setiap do’a yang terucap bukanlah sia-sia. Sebab mungkin Allah tak memberi apa yang kita minta, melainkan apa yang kita butuh. Terkadang Ia menunda, bukan karena menolak, tetapi karena ingin menumbuhkan sabar dan yakin di hati.
Maka, di antara tinta cinta-Nya dan ruh do’a yang kita panjatkan, tersimpullah rahasia besar kehidupan: Bahwa, segalanya telah tertulis indah dalam skenario-Nya. Manusia hanya perlu terus berjalan, berdo’a, dan berserah — karena setiap langkah yang dijaga dengan tawakal selalu menuju pada kebaikan yang telah Dia tetapkan.
Allah SWT berfirman:
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.””
QS. Āli ‘Imrān:173
Dalam tenang — do’a dan pasrah yang dalam, di sanalah seorang hamba menemukan kebahagiaan sejati. Yakni, keyakinan bahwa apapun yang Allah tulis untuknya, pastilah yang terbaik.
Amiiin…. amiiin yaarobal’alamiin. Subhanallah…. (KH/***)
