Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Tak terasa, bulan Ramadan 1447 H ini, nyaris di penghujung waktu. Cahaya lembut Ramadan itu, datang tak mengetuk pintu waktu dengan suara keras. Begitupun pergi, ia tak berkabar atau pamitan. Hanya senyap, sunyi, namun penuh makna pada jiwa jiwa yang meyambut dan melepasnya, penuh isi hati dengan cahaya ramadhan.
Hari-harinya dipenuhi dengan puasa, sabar, dan do’a. Malam-malamnya dihiasi dengan tilawah Al-Qur’an dan sholat yang panjang. Dan, ketika Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir ini — suasana itu berubah menjadi lebih dalam, lebih sunyi, lebih khusyuk, dan lebih sarat harapan.
Di banyak masjid, di seluruh permukaan bumi ini — lampu-lampu masjid tetap menyala hingga menjelang fajar. Lantunan ayat-ayat suci mengalun lembut dari berbagai penjuru. Ada yang membaca dengan suara lirih, ada pula yang hanya menundukkan kepala sambil memegang mushaf, seolah takut kehilangan setiap detik dari malam-malam yang mulia itu.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah puncak perjalanan spiritual seorang mukmin. Ia seperti tanjakan terakhir bagi seorang musafir yang telah menempuh perjalanan begitu panjang. Di sanalah tersembunyi malam yang dijanjikan Allah sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah berfirman dalam QS: Al-Qadar. Ayat 1 -3
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.”
QS. Al-Qadr[97]:1
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ
“Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?”
QS. Al-Qadr[97]:2
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
“Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
QS. Al-Qadr[97]:3
Para ulama menjelaskan, bahwa nilai seribu bulan itu setara dengan lebih dari delapan puluh tahun ibadah. Artinya, satu malam yang dihidupkan dengan iman dan keikhlasan dapat mengalahkan usia panjang yang dipenuhi kelalaian.
Karena itu Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya. Membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.”
Kesungguhan Nabi di malam-malam itu menjadi pelajaran bagi umatnya bahwa di penghujung Ramadhan tidak ada lagi ruang untuk menunda ibadah.
Namun sepuluh malam terakhir bukan hanya tentang memperbanyak amal. Ia juga tentang perjalanan batin seorang hamba yang mulai menyadari betapa singkatnya hidup di dunia ini.
Para ulama sufi sering menggambarkan malam-malam ini sebagai saat ketika langit terasa lebih dekat dengan bumi. Rahmat Allah turun dengan lembut, menyentuh hati-hati yang selama ini mungkin tertutup oleh kesibukan dunia.
Imam Al-Ghazali, misalnya, pernah menulis bahwa manusia sering tertipu oleh panjangnya harapan hidup. Mereka menunda taubat, menunda perubahan, seolah waktu akan selalu tersedia bagi mereka. Padahal, kata beliau, umur manusia sebenarnya berjalan lebih cepat daripada yang mereka sadari.
Dan, sufi besar Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut pergi.”
Kalimat itu terasa begitu nyata di penghujung Ramadhan. Setiap malam yang berlalu adalah bagian dari hidup yang tidak akan pernah kembali.
Di sudut-sudut masjid, kita sering melihat pemandangan yang menyentuh. Ada orang yang memperpanjang sujudnya hingga air matanya jatuh di atas sajadah. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara yang bergetar. Ada pula yang hanya duduk diam setelah sholat, memikirkan perjalanan hidupnya yang penuh kesalahan.
Barangkali, mereka sedang mengingat dosa-dosa yang lama terlupakan.
Barangkali pula mereka sedang berharap agar Allah menuliskan lembar kehidupan yang baru bagi mereka.
Jalaluddin Rumi pernah menulis dengan sangat indah:
“Ketika dunia membuatmu lelah, datanglah kepada malam. Di sana Tuhan menunggu mereka yang ingin kembali.”
Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah malam bagi kita yang ingin menjauh dari kelalaian, menjauh dari dosa serta maksiat. Dan, ingin kembali pada pertobatan yang sesungguhnya.
Di antara malam-malam itu tersembunyi Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
(HR. Bukhari)
Para ulama tasawuf sering mengingatkan bahwa menemukan Lailatul Qadar bukan sekadar menemukan malamnya, tetapi menemukan Allah di dalam hati kita.
Imam Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata:
“Barangkali amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas lebih besar nilainya di sisi Allah daripada amal besar yang dipenuhi kesombongan.”
Karena itu pada sepuluh malam terakhir ini tidak ada ibadah yang terlalu kecil. Satu ayat Al-Qur’an yang dibaca dengan hati yang khusyuk bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Satu do’a yang dipanjatkan dengan tulus bisa menjadi sebab dihapusnya dosa yang lama.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan do’a yang sangat sederhana kepada Aisyah ketika mencari Lailatul Qadar:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)
Do’a ini seperti ringkasan dari seluruh perjalanan Ramadhan. Sebab pada akhirnya manusia tidak datang kepada Allah dengan kesempurnaan amalnya, tetapi dengan kerendahan hati dan harapan akan ampunan-Nya.
Di penghujung Ramadhan, banyak orang saleh justru merasakan kesedihan yang mendalam. Kita takut bulan yang penuh rahmat ini pergi tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.
Diriwayatkan, bahwa para ulama salaf dahulu berdo’a selama enam bulan setelah Ramadhan, agar Allah menerima amal ibadah mereka di bulan itu. Dan selama enam bulan berikutnya mereka berdo’a agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang.
Itulah kerinduan orang-orang yang benar-benar memahami nilai Ramadhan.
Di malam terakhir bulan suci, banyak hati yang berbicara kepada Allah dengan bahasa yang paling jujur: bahasa air mata.
“Ya Allah… jika ini Ramadhan terakhir kami, jangan Engkau biarkan kami pergi dari bulan ini tanpa ampunan-Mu.
Jika ini Ramadhan terakhir kami, jadikanlah malam-malam yang telah kami lalui sebagai saksi bahwa kami pernah mencoba kembali kepada-Mu.”
Sebab pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tarawih, atau tilawah Al-Qur’an.
Ia adalah perjalanan pulang seorang hamba kepada Allah SWT.
Dan ketika bulan suci itu akhirnya pergi, yang tersisa di dalam hati kaum beriman hanyalah satu harapan:
Semoga Allah menerima semua amal kita di bulan yang penuh rahmat ini.
Jika Ramadhan benar-benar meninggalkan cahaya di dalam hati kita, maka cahaya itu akan terus menyala bahkan setelah bulan suci ini berlalu. (KH/***)
