SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Belajar Tak Pernah Mengenal Usia: Kembali ke Kampus Lama, Menjemput Cahaya Ilmu

Belajar Tak Pernah Mengenal Usia: Kembali ke Kampus Lama, Menjemput Cahaya Ilmu

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.

Ada orang yang mengukur hidup dari usia. Ada pula yang mengukurnya dari harta, jabatan, bahkan gelar. Namun, bagi seorang pencari ilmu, ukuran itu sesungguhnya sederhana: selama Allah masih memberi napas, selama akal masih mampu berpikir, maka belajar adalah ibadah yang tak pernah mengenal kata selesai.

Alhamdulillah, tahun ini  aku kembali melangkahkan kaki ke kampus yang pernah menempa perjalanan akademikku Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bandung. Bukan sebagai mahasiswa S1 seperti dahulu. Melainkan, sebagai mahasiswa Program Pascasarjana. Alhamdulillah lagi, sudah masuk semester ke dua.
Perasaan itu di koridor kampus begitu akrab. Gedung-gedungnya masih sama. Halaman kampus masih menyimpan kenangan yang dahulu pernah ku lalui. Dinding-dinding kelas, seolah masih mengenali langkah kaki para alumninya.

Yang berubah, hanyalah ruang belajarnya. Mata kuliahnya, lebih menantang, diskusinya lebih dalam.Dan, tanggung jawab akademiknya lebih besar. Serta, teman-teman seperjalanan kini datang dari berbagai perguruan tinggi dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Yang paling terasa berubah justru diri ku sendiri.

Usia memang bertambah. Rambut mulai memutih — meski selaku bertopi ha ha ha… Langkah tak lagi secepat dahulu. Namun, semangat untuk belajar justru terasa semakin matang. Sebab, semakin banyak membaca kehidupan, semakin sadar bahwa ilmu yang dimiliki ternyata masih setetes dibanding samudra pengetahuan yang Allah bentangkan.

KOPDAR KE-8 LPQQ KOTA DEPOK: Merajut Ukhuwah, Menuju 100 KBMA. Sinergi, Kolaborasi, Tumbuh Berdampak

Sayangnya, selalu ada orang yang gemar menghitung umur orang lain,.Tetapi, lupa menghitung keterbatasan ilmunya sendiri. Mereka bertanya dengan nada minor: “Masih kuliah juga? Mau jadi apa?”
Pertanyaan seperti itu tidak perlu dijawab dengan kegundahan apalagi dengan kemarahan. Waktu akan memberikan jawaban yang lebih elegan.

Sebab, sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang sibuk mengejek. Melainkan, oleh mereka yang terus belajar.
Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah perlombaan, siapa yang paling cepat memperoleh gelar. Ia adalah perjalanan seumur hidup. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk terus mencari ilmu tanpa membatasi usia.

Maka, sungguh mengherankan, bila ada manusia yang justru membatasi semangat belajar, hanya karena angka pada kartu identitas.
Pascasarjana ini bukan sekadar tentang dua huruf “M.Pd.” di belakang nama. Gelar tidak otomatis meninggikan derajat seseorang. Yang meninggikan adalah ilmu yang melahirkan adab, amal soleh, kejujuran, dan manfaat bagi sesama.

Kembali ke kampus bukan untuk mengejar pujian. Bukan pula untuk membuktikan, bahwa diri pribadi lebih hebat daripada orang lain. Pencari ilmu datang untuk melawan kebodohan dalam diri sendiri. Karena, musuh terbesar manusia bukanlah usia,. Melainkan, merasa sudah cukup ilmu.

Semoga Allah SWT menjaga niat ini hingga akhir. Menjadikan setiap langkah menuju ruang kuliah sebagai ibadah, setiap buku yang dibaca sebagai cahaya.Dan,  setiap dosen sebagai wasilah ilmu. Serta, setiap perjumpaan sebagai ladang persaudaraan dalam merajut silaturahmi.
Biarlah, sebagian orang sibuk menghitung usia kami. Kami memilih menghitung keberkahan ilmu yang masih Allah titipkan.
Sebab, pada akhirnya, yang akan ditanya di hadapan Allah, bukan berapa usia ketika berhenti belajar. Melainkan, apa yang telah kita lakukan dengan ilmu yang telah Dia anugerahkan.

Sekolah Lagi di Usia Senja: Ketika Ego Dipaksa Duduk Sebangku dengan Keikhlasan

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.
*****