Oleh: Anne Y. Wachyuni S.Pd, C.PQI.
Bandung tak pernah berhenti mengajarkan, bahwa ilmu memiliki banyak pintu. Sebagian orang mengetuknya ketika usia masih belia. Sebagian lagi, baru menemukan gagangnya ketika rambut mulai memutih dan langkah tak lagi secepat dahulu.
Di antara mereka, ada penulisnya yang
kembali menjadi murid.
Bukan karena gelar kurang panjang. Bukan pula karena ingin disebut paling alim. Justru, karena semakin lama menjalani hidup, semakin terasa betapa sedikit ilmu yang benar-benar menjadi cahaya.
Di ruang-ruang kelas Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) Bandung Tahun Akademik 2026/2027, penulis melihat pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Para ibu dengan begitu semangat menulis makalah, berdiskusi, mempresentasikan tugas. Bahkan, akan menghadapi UTS dan UAS, dan bersiap menuju wisuda tiga tahun mendatang.
Kalimat yang disampaikan oleh Direktur MTKD menjadi penyulut semangat. Dan, sekaligus tamparan halus.
“Di mana ada emak-emak bikin makalah? Di mana ada emak-emak mengerjakan UTS dan UAS? Di mana ada emak-emak wisuda setelah tiga tahun belajar? Di sinilah tempatnya.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di balik tawa yang mengiringinya, tersimpan kritik yang sangat dalam.
Betapa sering manusia merasa terlalu tua untuk belajar. Tetapi, tidak pernah merasa terlalu tua untuk berdebat. Terlalu lelah membuka buku, tetapi selalu punya tenaga membuka aib orang lain.
Hari-hari pertama di MTKD dipenuhi ta’aruf. Mengenal guru, mengenal teman, mengenal kurikulum. Namun sesungguhnya yang paling sulit adalah mengenal diri sendiri.
Sebab, setiap mata pelajaran, ternyata sedang mengajarikan sesuatu yang jauh lebih luas daripada isi silabus.
Akhlak bukan sekadar menghafal dalil. Melainkan, bercermin apakah lisan ini lebih banyak menyembuhkan atau melukai.
Fiqih Munakahat bukan hanya berbicara tentang pernikahan dan perceraian.Tetapi, mengajarkan, bahwa hubungan antar manusia hanya akan bertahan jika dibangun dengan adab.
Aqidah mengingatkan bahwa hidayah bukan hasil kepintaran, melainkan karunia Allah yang tidak bisa dibeli dengan gelar apa pun.
Mahfudzat dengan kalimat “Man Jadda wa Jada” seolah berbisik, bahwa kesungguhan tidak mengenal batas usia.
Pertemuan berikutnya, menghadirkan Tarikh, Fiqih Ibadah, Muhadharah, hingga BTQ. Semuanya seperti menyusun kembali bangunan ilmu yang selama ini dikira emak emak sudah kokoh. Ternyata tidak.
Belajar membaca Al-Qur’an dari dasar lagi bukanlah kemunduran. Yang memalukan, justru ketika seseorang merasa bacaannya sudah sempurna. Padahal, tajwidnya masih berantakan dan hatinya mungkin lebih berantakan lagi.
Di sinilah satir itu terasa begitu dekat.
Kita hidup pada zaman ketika banyak orang berlomba menjadi pengajar. Tetapi, enggan menjadi pelajar. Sibuk mengoreksi orang lain, namun alergi dikoreksi. Gemar tampil sebagai narasumber, tetapi malas menjadi pendengar.
Ironisnya, semakin tinggi posisi seseorang, sering kali semakin sulit ia mengucapkan dua kata yang paling mulia dalam dunia ilmu: “Saya, belum tahu.”
Bersyukurnya, masih diberi kesempatan duduk di bangku belajar. Sebab, usia ternyata bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Yang membuat seseorang benar-benar tua, bukan keriput di wajahnya.Melainkan, ketika rasa ingin tahunya telah mati.
MTKD bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah ruang untuk meruntuhkan kesombongan, yang diam-diam tumbuh setelah puluhan tahun merasa sudah tahu banyak hal.
Di sana para emak belajar, bahwa nilai terbaik bukanlah angka di rapor. Melainkan, ketika hati menjadi lebih lembut, lisan menjadi lebih santun, dan ibadah menjadi lebih jujur.
Tiga tahun menuju wisuda, mungkin terasa panjang. Namun, sesungguhnya, perjalanan yang lebih panjang adalah mendidik diri agar tetap rendah hati sampai akhir hayat.
Sebab, gelar bisa berhenti di belakang nama. Sejatinya seorang pencari ilmu, akan selalu berjalan, sampai Allah memanggilnya pulang.
Barangkali, inilah makna sekolah di usia senja.
Bukan mengejar ijazah.Melainkan, mengejar ridhoNya.
*****
