Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Dibalik Senyum Ada Luka Kepercayaan yang Dipendam

[Cerpen] Dibalik Senyum Ada Luka Kepercayaan yang Dipendam

(Foto ilustrasi - Ravenita)
(Foto ilustrasi - Ravenita)

Oleh: Imam M.Nizar 

Sore itu, dosen Suna duduk terpaku dibalik jendela ruang kerjanya, di lantai dua. Seraya, matanya jauh memandang ke luar, dengan tatapan kosong.

Gerimis mengguyur pelan, basahi kaca dan menetes — seperti air mata yang tertahan lama selama ini.

Ya, sejak kabar itu datang, langit rasanya tak pernah cerah lagi. Tak ada pelangi. Ia merasa seolah seluruh semesta ikut bersedih — bersama hatinya yang remuk, berserak dalam diam. 

Sepupu bernama Yayu, yang diboyongnya dari Cirebon — selama ini diasuhnya seperti adik sendiri, ternyata diam-diam menyulam benang haram di rumahnya bersama sang suami. Hati istri yang mana tak luka menganga dibuatnya? 

Kumpulan Puisi Ramadan

Suna tak menyangka, kalau Yayu yang pendiam itu, justru menjadi bayang-bayang pengkhianatan di balik punggungnya. Dan, itu terbukti. Membuat Suna remuk redam hatinya. 

Sang suami, yang telah menemaninya lebih dari sepuluh tahun — telah merobohkan rumah tangga yang selama ini mereka bangun bersama. 

“Ma… aku minta maaf,” kata suaminya beberapa malam lalu, dengan suara tertunduk dan wajah tak sanggup menatap sang istri. 

Suna tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai. Telinganya mendengar, tapi hatinya kosong. Di dalamnya berkecamuk, ada badai yang tak bisa ditumpahkan — marah, kecewa, hancur. Tapi juga… masih ada cinta. 

Sayangnya, cinta pun tak mampu menahan luka saat kepercayaan ditelikung, dikhianati. Bagusnya, Suna berusaha bersandar dan menyerahkannya pada Pencipta Langit dan Bumi. 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

“Aku khilaf. Yayu bilang dia hamil. Dan…..” 

Suna berdiri. Tangannya bergetar. Nafasnya berat. Tapi matanya tetap dingin. Sang suami tak bisa melanjutkan kalimatnya. 

“Khilaf?” suaranya serak. “Kau tidak ‘khilaf! selama berbulan-bulan. Kau memilih. Kau menyembunyikan. Kau menodai,”  kata Suna lantang, tetap terukur, menahan, agar putri sulungnya di kamar sebelah, tak mendengarnya. Dan, berlindung pada-Nya. 

Lelaki gagah dan perlente itu hanya tertunduk. Dan Suna tahu, hatinya tak akan sama lagi. 

Setelah itu, malam-malam bagi Suna terasa panjang. Di kampus, ia tetap mengajar, tetap tersenyum, meski  wajahnya pucat —- kurang tidur. Sorot matanya layu, tak bersinar seperti dulu. Ia pun tak lagi seramah dulu. Dan, peserta didik pun mulai menyadari, dosen mereka yang ceria itu,  kini membawa mendung ke mana pun ia melangkah. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Di rumah sendiri, setiap sudut yang dilihatnya, terasa asing. Sprei yang biasa ia lipat berdua, kini dingin. Meja makan yang dulu dipenuhi tawa dan tempat berdiskusi — sebelum berangkat beraktivitas, kini sunyi. Bahkan, cermin pun tak mampu memantulkan sosok Suna yang dahulu, seolah berubah. Dirinya telah mati sebagian. 

Sungguh menyakitkan, bukan sekadar pengkhianatan yang dilakukan dari mishuanya. Suna tak bisa marah juga pada Yayu. Bagaimanapun, Yayu adalah  “darahnya” sendiri. Dan di balik semua itu,  ada bayi yang tumbuh, darah dari lelaki  yang pernah ia cintai setulus jiwa. 

Suatu malam, Suna menulis di jurnal dan statusnya. 

“Aku bukan ingin dia kembali. Aku hanya ingin diriku yang dulu kembali. Tapi aku tahu, Itu tak akan pernah sama. Aku harus terima kenyataan ini, meski hati, belum sepenuhnya rela.” 

Sejak itu, seperti hujan yang turun setiap pagi. Luka Suna tak pernah benar-benar mengering. Tapi ia mulai belajar… bahwa hidup tak selalu memberi jawaban yang manis. Terkadang, hanya menyisakan pelajaran pahit, untuk membuat hati lebih kuat, meski tak lagi utuh. 

Dengan rasa keterpaksaan dan setengah rela. Suna di madu. Tetapi, Suna tak benar benar ambruk — seperti air hujan yang turun, basahi bumi. Kapan harus reda, meski awan tak kunjung cerah. Begitulah adanya Suna sekarang. 

Depok, 26 Juni 2025

=================

Teruntuk Bundaku:

Dosen Maria

Selam sehat selalu ya, Bun….

Semoga hari ini, Bunda bertambah sehat dan ceria kembali.