Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ketika Wartawan Itu Mencintai Guru TK

[Cerpen] Ketika Wartawan Itu Mencintai Guru TK

Oleh: Imam M.Nizar 

Malam itu, selepas senja, Yuchyni, seorang guru TK– kelahiran Jakarta dan besar di Kutoardjo itu menatap bangunan rumah orang tuanya yang sudah dibongkar —- lantaran telah “dibeli” dengan salah satu keluarga yang punya rumah sewaan itu. Ia  menatapnya dari lantai dua rumah teman karibnya, bernama Nur.

Diam-diam, air matanya menetes, mengenang sudut sudut ruang rumah sederhananya penuh dengan kenangan yang terajut bersama keluarga tercinta —  juga dengan sahabat, dan teman lainnya yang kerap berkunjung. Kini hanya serakan puing reruntuhan dalam nyata dan hatinya.

“Nur….boleh aku bermalam di sini,” kata Yuchyni pada sahabat karibnya. Pemintaan Yucyhni itu beralasan, esok pagi ia ada kegiatan di sekolahnya. Jika ia harus pulang ke Bekasi — rumah barunya itu, pasti esok berangkat lebih pagi pun ke sekolahan tempat ia mengajar di bilangan Rawamangun,  pasti terlambat.

 Nur, spontan jawab, “Ya, ndak papa. Dari pada pulang, waktu sudah malam  juga ini,” kata Nur datar disamping sahabatnya. Malam itu, mereka tak langsung berangkat ke perpaduan mimpi. Kedua insan ini saling berbagi cerita. Nur, memaparkan  belakangan ini, kakak sulungnya, sering ke Indramayu. Kamar tidurnya yang di bangun sedemikian rupa,  ada tempat tidur, dihiasi sound mewah untuk menikmati musik, serta seperangkat komputer plus mesin print outnya dan tegantung gitar akustik, seolah menjadi pajangan belaka.

Gema dari Mimbar Masjid Untuk Luka dan Duka Sumatera 

“Entah tuh, abang  kalau dia pulang kerja, jarang langsung pulang ke rumah dan tidur di kamar nya. Dia tidur masih seperti yang dulu saja, seperti sebelum bekerja. Kadang tidur di rumah nenek, di rumah teman, kadang di masjid,”  papar Nur gamblang — jarak antara rumah keluarga itu tak jauh dari  rumah nenek, teman dan masjid di mana Riant kerap di sana.

Yuchyni hanya menghela napas sejenak. Pikirannya terlintas, apa yang dikatakan sang sahabatnya: Sering ke Indramayu? Ada apa? Terbayang, ada gadis tetangga yang ia kenal juga sosok gadis tersebut. Suka nyanyi dan pernah dimuat profilnya sebagai pendatang baru di blantika musik dangdut —-  di media tempat Riant bekerja sebagai reporter, Pikir Yucyhni.

“Semoga Abang Riant cepat menemukan jodohnya,” ucap Yuchyni dalam diam. Ia membuang pikirannya jauh jauh sosok kakak sulung dari sahabatnya itu. Bentuk keramahan dan penuh perhatian terhadap semua anggota keluarganya.

Terbesit, hubungan Riant yang akhirnya terbuka di tengah keluarganya. Riant menaruh hati pada sang tantenya,  Yuchyni sendiri — anak bungsu dari ibunya yang sebaya usianya dengan Yuchyni, tapi tak dapat restu oleh sang ibu. Sejak itu, Riant seolah menghilang dari pandangan keluarga Yuchyni dan keluarga besarnya.

Sampai akhirnya karier yang disandang Riant sebagai jurnalis —– ketika keluarga itu “hijrah terpaksa” ke Bekasi  Riant seolah tak melihatnya lagi. “Mungkin Riant kecewa pada ibuku,” pikir Yuchyni. 

Ketika Ilmu Tak Disertai Adab 

Malam semakin larut. Langit seperti ikut menampung kesedihan Yuchyni yang tak tertahankan. Sementara angin yang menyelinap dari celah jendela kamar Nur seolah membawa bisik kenangan dari masa lalu yang belum selesai. Yuchyni berselimut pelan, namun pikirannya tak kunjung tidur. 

Wajah Riant kembali hadir. Dalam benaknya, lelaki itu tak pernah benar-benar pergi. Ada rindu yang menggumpal namun tak sempat dijemput takdir. Lelaki yang dulu tak pernah sungkan bicara apa adanya — bahkan kerap main catur dengan ayahnya Yuchyni —- diam-diam selalu menyimpan buku catatan kecil berisi puisi-puisi yang tak pernah dikirimkan. 

Tetapi, sejak peristiwa itu — saat sang ibu Yuchyni menolak hubungan Riant dengan tante bungsunya — segalanya berubah. Jarak merentang bukan hanya dalam ruang, tapi juga hati. Riant pergi menjauh. Seolah tak ingin melihat lagi keluarga dari tetangga dekat tersebut. Lukanya masih membekas. Ibarat dari salah satu syair lagu dangdut: Sakitnya tuh di sini….. 

Sampai suatu siang, di sela-sela istirahat mengajar, Yuchyni melihat nama inisial Riant muncul dihalaman berita salah satu Tabloid bergengsi, tagline: Teman Wanita Karier. Riant menulis ulasan hangat tentang penyanyi dangdut pendatang baru dari Indramayu. Ulasannya begitu rinci dan personal. Orang-orang berspekulasi, mungkin ada hubungan khusus di antara mereka. Tapi Yuchyni hanya tersenyum samar. Ternyata, kabar itu tidak sepenuhnya benar. 

Minggu lalu, Nur menunjukkan pesan dari sang abang yang jarang dibuka di grup keluarga. Isinya singkat, tapi menggetarkan: 

Delegasi 21 Negara Siap Ramaikan Pertemuan Akbar Bertema Ibadah Murni di ICE BSD Tangerang

“Aku batal melamar gadis itu, Nur. Dia baik, tapi bukan “rumah” yang kucari. Suaranya merdu, tapi tak bisa menenangkan hatiku yang lama menunggu.” 

Yuchyni membaca kalimat itu berkali-kali. Ia tahu, Riant sedang bicara tentang seseorang. Bukan hanya sang penyanyi, bukan juga sekadar kegagalan rencana. Ia bicara tentang hati yang pernah patah dan belum pulih. Ia bicara tentang seseorang yang diam-diam masih ia tunggu. 

Pagi menjelang. Cahaya jingga merekah dari balik tirai jendela. Yuchyni bangkit, bergegas bersiap mengajar. Tapi sebelum melangkah keluar kamar, matanya kembali memandangi reruntuhan rumah masa kecilnya dari lantai dua. Di balik puing-puing itu, ada kenangan, ada luka, dan mungkin… ada cinta yang belum usai. 

Dan jauh di sudut hati, Yuchyni membisikkan doa yang lirih : Jika memang belum selesai… semoga Tuhan izinkan kami bertemu… bukan dalam bayang, tapi dalam nyata. Setidaknya, begitu harapan guru TK, gadis tetangganya itu. 

Pagi itu, suara anak-anak TK terdengar riang bermain di halaman sekolah. Namun Yuchyni merasa langkahnya berat. Bukan karena lelah, tapi karena pikirannya masih tertambat pada pesan singkat yang baru ia terima dini hari tadi. 

“Yuch… boleh kita bertemu? Aku tak tahu harus mulai dari mana… tapi aku ingin menyelesaikan apa yang dulu tertunda. Aku ingin melamarmu.”

Pesan itu datang tiba-tiba, seperti angin yang mengetuk jendela usang di malam sepi. Membacanya, dada Yuchyni langsung menghangat, seperti diguyur embun setelah sekian lama kering. Tapi sekaligus, hatinya bergemuruh. Antara bahagia dan tak percaya. 

Mereka pun bertemu sore harinya. Di sebuah kedai kopi mungil di Rawamangun, tempat yang dulu sering mereka kunjungi — saat semuanya masih sederhana dan hati belum terluka oleh restu yang tak sampai. 

Riant datang dengan bawahan jeans dan atasan kaos hitam tanpa merk. Wajahnya lebih matang dari kali terakhir mereka bertemu. Matanya tetap teduh, suaranya tetap tenang, tapi ada sebersit gugup yang tak bisa ia sembunyikan. 

“A…A… Aku belum bisa berhenti menulis tentangmu, Yuch,” ucapnya perlahan. 

Yuchyni terdiam. Ia menunduk, menggenggam cangkir kopinya erat-erat, mencoba menahan gejolak yang mulai mengalir deras. 

Riant melanjutkan, “Dulu aku mundur karena ibumu. Tapi sekarang… ibuku yang menolak.” 

Yuchyni menatapnya, seolah tak percaya pada ucapan itu. “Ibumu? Ibuku?” 

Riant mengangguk pelan. “Ibu ku ingin aku menikah dengan Rini… gadis yang sejak kecil sering ke rumah, yang sekarang tinggal dan mengajar ngaji di pesantren Wonosobo. Katanya, lebih cocok. Lebih ‘membawa tenang’. Lebih… ‘bertuah’.” 

Yuchyni tersenyum pahit. Kata-kata itu pernah diucapkan ibunya sendiri dahulu — hanya dengan sudut pandang yang berbeda. 

“Dan kamu?” tanya Yuchyni nyaris berbisik. 

“Aku… tak dapat bohongi  diriku lagi. Aku tahu siapa yang membuatku pulang. Dan itu bukan rumah, bukan Wonosobo, bukan suara lagu — yang pernah aku buat di depanmu, peke petikan gitar. Itu kamu. Kamu sendiri.” 

Udara di antara mereka seolah membeku. Tapi bukan dingin yang menusuk, melainkan ragu yang mengular. 

“Riant,” lirih Yuchyni, “aku tak ingin jadi alasan ibumu bersedih. Aku juga tidak ingin kau kehilangan restu yang sama seperti dulu  rasakan untuk tanteku.” 

“Aku sudah bicara padanya. Aku minta waktu. Aku bilang, kali ini aku ingin berjuang. Untuk perempuan yang sejak dulu aku tulis diam-diam. Tentang sosok guru TK, yang bahkan ketika menangis… tetap mengajarkan tawa.” 

Air mata Yuchyni jatuh pelan, tak terbendung lagi. 

Hari itu, langit sore di atas Rawamangun menjadi saksi. Bukan tentang akhir bahagia, bukan juga tentang janji manis. Tapi tentang keberanian untuk memperjuangkan —  saat restu belum sepenuhnya datang. 

Terkadang, cinta sejati bukan hadir tanpa rintangan, melainkan tetap tumbuh meski terluka dan tertunda. 

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Yuchyni, Riant pulang ke rumah ibunya. Kali ini, benar benar tidur dalam kamar yang ia bangun dari hasil menulis freelance —- sebelum ia  bergabung  dengan grup media bergengsi di negeri ini.

Rumah yang tak besar di bangun dua lantai itu masih menyimpan rasa rindu dan cerita masa kecilnya. Karena  nyaris berhimpitan dulunya dengan rumah sewa orang tua Yuchyni.

Riant  teringat ketika masih bantu bantu sang ibu jual sayur di pasar. Di sepetak teras, ibunya tengah menyiram pot-pot bunga dengan selang kecil. Rambutnya telah beruban sebagian, tapi sorot matanya tetap teduh dan penuh wibawa. 

Riant mendekat perlahan, lalu mencium tangan wanita yang membesarkannya itu. 

“Bu…” katanya lembut, “boleh kita bicara sebentar?” 

Ibunya mengangguk tanpa banyak tanya. Mereka duduk di kursi kayu panjang yang menghadap taman kecil, pekarangan rumah tetangga.  Hening menyelimuti beberapa saat, hingga akhirnya ibu Riant membuka suara. 

“Soal Rini…” 

Riant tersenyum tipis mengembang. “Iya, Rini anak baik. Ibu pasti cocok, Rini untuk Riant.  Halus budi, rajin ngaji, dan dekat dengan keluarga kita.” 

Riant tak langsung membantah. Ia membiarkan ibunya menuntaskan semua harapan itu. 

“Ibu tahu,” lanjutnya pelan, “Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, ” kata sang ibu.

” Tapi, Bu… bolehkah kali ini aku memilih sendiri jalanku?” Sela Riant sopan. 

Sang ibu terdiam. Dahi berkerut sedikit, matanya mencari penjelasan lebih. 

“Namanya Yuchyni, Bu,” kata Riant, kali ini dengan suara yang hampir seperti bisikan doa. “Ia guru TK.  Ibu sudah tahu sosok kecil beliau hingga tumbuh remajanya dan kini. Ia lembut, sabar, dan… selalu mencintai keluarganya, bahkan setelah rumahnya tak lagi berdiri. Dia perempuan yang… aku tahu akan menuntunku pulang, bukan hanya ke rumah, tapi ke diriku sendiri.” 

Ibunya menarik napas dalam. Wajahnya berubah teduh, tapi matanya masih menyimpan ragu. 

“Riant, kamu tahu kan… dulu ibu juga pernah kecewa karena  ibunya dia?” 

“Aku tahu, Bu. Tapi itu dulu. Yuchyni bukan orang lain dalam hidupku. Dia bukan hanya ‘perempuan yang pernah singgah’, tapi perempuan yang selama ini tinggal — dalam pikiranku, dalam doaku. Aku hanya ingin Ibu mengenalnya… dengan hati, bukan dengan cerita lama.” 

Perlahan, sang ibu menunduk. Tangan keriputnya menggenggam jemari Riant. Hening kembali menyelimuti mereka. 

“Aku tak ingin kehilangan restu Ibu,” lanjut Riant, “tapi aku juga tak ingin kehilangan perempuan yang membuatku bertahan dalam gelap dunia ini.” 

Tangis sang ibu pecah perlahan. Bukan karena marah. Tapi karena hatinya pelan-pelan disentuh kembali. Ia tahu, anaknya telah dewasa. Dan saat seorang lelaki datang membawa perempuan bukan dengan nafsu, tapi dengan keteguhan dan kasih… ia tak bisa menolak cahaya itu begitu saja. 

“Kalau begitu… kapan kamu datang ke rumahnya Nak. Biar ajak Ibu sekalian untuk perempuan yang kamu perjuangkan” 

Riant memejamkan mata. Rasa lega mengalir deras dari dadanya. Ia tak menjawab, hanya mencium tangan ibunya lebih lama dari biasanya. 

Hari itu, bunga-bunga di pekarangan rumah tulip nya itu mekar serempak. Bukan karena matahari pagi, tapi karena restu yang akhirnya tumbuh — dari cinta yang dijaga dalam diam… dan keberanian untuk menyampaikannya dengan lembut. (Red/***)

Buat Bojoku Tersayang: Budi Wahyuni