Oleh: Imam M.Nizar
“Aiii….Mas Riant. Baru sampe? Liputan kemana seharian ini?”, tanya pedangdut Elfa yang baru keluar dari ruangan take vocal di salah satu studio di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur seraya mempersilakan Riant untuk duduk bersama di ruang tamu.
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu jadi ciri khas dari Elfa yang kini sudah menjadi sahabat Riant selaku wartawan musik. Ya, begitu Elfa saat bertemu dengan sahabat wartawannya itu, posisinya dibalik. Elfa lebih banyak bertanya. Hal itu pernah terjadi saat Riant kali pertama wawancara pada Elfa di rumahnya, bilangan Cipondoh, Kota Tangerang.
Elfa masih terngiang-ngiang awal kali wawancara, Riant bertubi- tubi menghujankan pertanyaan berwangi gosip yang melekat di dirinya sebagai penyanyi ngetop lewat lagu Malam Yang Dingin. Ketika mereka sudah jadi “sahabat” justru Elfa kini yang banyak bertanya saat bertemu.
“Sudah ketemu dengan Mas Heri di depan, Dia lagi ngopi, ngerokok,” tanya Elfa lagi. Yang disebut Mas Heri, tak lain adalah suami dari Elfa yang awal kariernya disembunyikan. Lewat media Riant lah, akhirnya Elfa bersedia buka bukaan soal pernikahan di kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, di cover depan media yang bergengsi buat wanita karier itu, Elfa dan Heri mesra berpose. Hal ini, tak mempengaruhi penjualan kaset dan CD nya saat itu.
Bahkan, album berikutnya, bertajuk Kemesraan meledak di pasaran. YouTube dan platform digital lainnya mewarnai lagu tersebut Hal ini menghilangkan mitos. Artis pendatang baru, jika sudah punya pacar, apa lagi suami, lagu atau albumnya, tak dapat diterima oleh masyarakat luas. Kini, Elfa membuktikan, hal itu tidak benar. Hanya mitos.
Sejak itulah, Elfa dan Riant bagai sahabat dan keluarga tak terpisahkan. Saat Elfa masuk studio rekaman Riant selalu diberitahu. Entah kenapa, kini studio pilihan Elfa di bilangan Rawamangun — tak jauh dari rumah orang tua Riant. Dimana Riant bersama sang istri, tinggal di sana.
Malam itu, usai rekaman, Elfa beserta suami, arranger dan istri dari arranger yang juga pedangdut berkunjung ke rumah Riant, “Kami akan menengok bojomu, melahirkan kan?”, ucap Elfa sambil mengunyah keripik nangka, cemilan yang disukainya.
Riant tak bisa menolak rombongan pedangdut tersebut beranjangsana ke rumahnya kisaran pukul 01.30 dini hari. Rumah orang tua Riant yang masuk gang senggol itu ditelusuri oleh penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Luar biasa.
“Kalau mbak datang, siang atau sore hari….sudah pasti, mbak diserbu penggemar,” papar Riant. Elfa dan suami serta rombongan lainnya hanya senyum samar saja.
“Oh, iya…nama putri kedua mu dari nama artis juga yang dirimu kagumi? Pake nama aku dong depannya….” canda Elfa.
Kali ini, Riant menjawab dengan beberapa kutipan ayat suci Alquran — yang esensinya ikhtiar mencari rejeki. “Oh, tak sangka, Mas ini pengetahuan agamanya bagus,” puji Elfa.
Pertemuan singkat itu masih membekas di ingatan Riant. Elfa, dengan gaun panggung yang belum sempat ia ganti, menyalami istrinya yang tengah menggendong bayi mungil.
Ada tatapan tulus sekaligus lelah dari sorot mata Elfa – seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan di depan keluarga Riant lainnya. Riant hanya menafsirnya sebagai keramahan seorang sahabat yang kini bertransformasi menjadi bintang panggung top. Dengan hasil penjualan yang mendulang emas.
Setahun berlalu, tepat pada tanggal 24 Agustus — saat RCTI dan grupnya berulang tahun, ada kabar mengejutkan meledak di lini masa: Elfa resmi bercerai dari suaminya. Telepon redaksi berdering, dan nama Riant disebut sebagai orang yang harus menuliskan beritanya. Di rapat redaksi pun Riant tak bisa nolak saat pimpinan redaksi mendelegasikan tugas itu ke pundaknya. Dan, Riant pun menghampiri broadcast yang sedang berultah itu.
Di ruang rias make up artis — Riant bertemu dengan Elfa. Kali ini, Riant menyingkirkan embel embel pertemanan di baju kewartawanannya itu. Efla pun menjawab proporsi dan profesional selaku artis.Balik ke kantor, Riant bawa berita.
Tangan Riant sempat bergetar. Ia teringat malam kelahiran putri keduanya, ketika Elfa datang menjenguk sang istri di rumah orang tuanya.
Diam-diam, Elfa menyelipkan amplop berisi lima juta rupiah ke bawah bantal gendongan bayi — yang sempat Elfa gendong pula putri kedua Riant itu, “Untuk biaya susu dan popok bayi,” katanya dalam tulisan tangan Elfa di atas amplop warna pink. Sejak itu, ada semacam utang budi yang tak pernah benar-benar lunas.
Kini, di depan layar komputernya, Riant menghadapi dilema. Sebagai sahabat, ia ingin melindungi nama baik Elfa. Namun sebagai wartawan, kredibilitasnya dipertaruhkan. Ia tahu benar, satu berita yang ditulis dengan keberpihakan bisa meruntuhkan reputasi yang ia bangun bertahun-tahun.
Di ruang redaksi, semua orang menunggu tulisannya. Riant menarik napas panjang, lalu mulai mengetik. Ia menuliskan fakta sebagaimana adanya, tanpa tambahan bumbu sensasi, tanpa juga menyembunyikan kenyataan. Kata-kata itu mengalir dingin, tetapi jujur. Fakta.
Di hatinya, ia berbisik lirih: “Maaf, Elfa. Persahabatan kita tetap abadi. Tapi pena ini tak bisa dibeli.”
Berita itu akhirnya terbit. Tanpa embel-embel dramatis, tanpa judul yang mengiris harga diri, tapi tetap menyatakan dengan jelas: Elfa Resmi Bercerai Dari suaminya, 24 Agustus.
Esok harinya, Elfa membaca berita itu di layar ponselnya. Ada rasa getir yang tak bisa ia tolak. Bukan karena tulisan Riant menyudutkan, melainkan karena kejujuran yang telanjang.
Dunia hiburan selalu haus sensasi, dan ia tahu, tulisan Riant barangkali menjadi pintu bagi media lain untuk memburu kisah pribadinya.
Elfa menatap kosong ke luar jendela apartemennya, lalu teringat suatu malam di rumah orang tua Riant dahulu — ketika ia menyelipkan amplop untuk istri Riant. Ada rasa hangat saat itu, seolah ia menemukan keluarga baru di tengah gemerlap panggung yang sering kali palsu. Kini, amplop itu kembali menggema di hatinya, menjadi semacam utang yang tak pernah ia minta dibayar.
Beberapa jam kemudian, Elfa menghubungi Riant. Suaranya tenang, namun berlapis luka. “Riant… aku baca tulisanmu,” katanya lirih. “Jujur, aku sakit. Tapi lebih sakit lagi kalau kau menutupinya hanya demi aku. Kau menulis dengan benar. Dan itu cukup membuatku sadar, tak semua orang bisa dibeli, bahkan oleh kebaikan sekalipun.”
Riant terdiam. Dilema yang sejak semalam menjerat dadanya tiba-tiba pecah menjadi rasa lega bercampur perih. Ia sadar, persahabatan sejati bukan berarti selalu menutupi, melainkan berani menghadapi kenyataan meski menyakitkan.
Di seberang sana, Elfa menarik napas panjang, lalu menambahkan, “Kau tetap sahabatku, Riant. Pena itu milikmu, biarlah tetap tajam. Jangan pernah tumpul hanya karena mengenalku.”
Kali ini, giliran Riant yang tercekat dan merenung, Ia tahu kalimat itu bukan sekadar pengakuan, melainkan restu—restu agar ia tetap menjadi wartawan yang berdiri di atas kebenaran, bukan di bawah bayangan persahabatan semu. (***)
Buat Putri Kedua Kami: Tiar Shufanah Sari Yang Berulang Tahun, bertepatan dengan hari jadi RCTI dan grupnya.
