Humaniora
Beranda » Humaniora » Dua Perguruan Tinggi Ini Gelar Wisuda Bersama Sekaligus Klarifikasi Kabar Tak Sedap

Dua Perguruan Tinggi Ini Gelar Wisuda Bersama Sekaligus Klarifikasi Kabar Tak Sedap

Acara wisuda bersama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ( STIT) At-Taqwa Bandung dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammad Mardiyana, Tangerang di Puri Khatulistiwa Hotel, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (22/1/2025).

KABARHIBURAN.id – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ( STIT) At-Taqwa Bandung dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammad Mardiyana, Tangerang, melaksanakan wisuda gabungan di Puri Khatulistiwa Hotel, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, pada Rabu (22/1/2025).

Acara wisuda dua perguruan tinggi yang bernaung di bawah satu atap yayasan yang sama tersebut, diikuti mahasiswa angkatan 2018, 2019 dan 2020.

Sebelumnya, mereka telah menyelesaikan seluruh persyaratan akademik dan dinyatakan lulus dengan bukti ijazah atau Surat Keterangan Lulus (SKL).

“Wisuda ini merupakan bentuk apresiasi atas perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan studi mereka,” kata Ketua STIT At-Taqwa Bandung, Dr. Isop Syafe’i, M.Ag., saat jumpa pers bersama Ketua STIT Muhammad Mardiyana Tangerang, DR H.Ii Somantri, S.Ip., S.Ag., M.Ag., M.Si. 

Lebih lanjut, H. Ii Somantri menambahkan, kelulusan ini bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan langkah awal untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tantangan di dunia kerja. 

Kumpulan Puisi Ramadan

“Gelar yang disematkan, bukanlah tujuan akhir. Akan tetapi, harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi. Baik itu melalui pendidikan lanjutan ke jenjang S2 maupun dengan memperluas keterampilan di dunia kerja,” katanya. 

Perkenalan masa perkuliahan di kampus STIT At-Taqwa Bandung, antara dosen dan mahasiswa para mualim.

Pembekalan Tambahan

Tak seperti kebanyakan perguruan tinggi lainnya. Dalam upaya meningkatkan daya saing, lulusan STIT At-Taqwa Bandung dan STIT Muhammad Mardiyana, sebelum utuh terjun ke tengah masyarakat, mereka telah dibekali terlebih dahulu dengan berbagai keterampilan sesuai dengan minat dan bakat. 

Misalnya, seperti, bahasa asing Inggris dan Jepang, serta keterampilan di bidang kewirausahaan, seperti desain dan kuliner. 

“Kami berupaya membekali para lulusan agar tidak hanya siap di bidang pendidikan Islam saja. Akan tetapi,  juga memiliki keterampilan lain yang dapat membantu mereka beradaptasi di dunia kerja yang terus berubah,” kata H. Ii   Somantri.

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Klarifikasi Kabar Tak Sedap

Dalam kesempatan itu, H Ii Somantri sekaligus memberikan klarifikasi terkait kabar tak sedap yang menerpa kedua perguruan tinggi ini. 

Para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ( STIT) At-Taqwa Bandung.

Kabar yang beredar, kedua perguruan tinggi ini, menerima calon mahasiswa dari SMA sederajat (Paket C) yang tak lulus atau belum lulus di sekolah sebelumnya. 

H Ii Somantri menegaskan bahwa persyaratan wajib untuk menjadi mahasiswa di kedua perguruan tinggi ini, mutlak sebelumnya sudah terlebih dahulu lulus SMA sederajat (Paket C). 

Menurutnya, apakah mungkin, seseorang yang belum lulus SMA, mereka punya ijazah. Atau seseorang yang belum lulus, bisa terdaftar, lolos di Pusat Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Dan persyaratan wajib calon mahasiswa yang harus diupload di PDDikti, ada ijazah SMA atau sederajat, KTP, kartu keluarga dan lainnya.

“Dari sini, dimana letak berpikir dan akal sehatnya,” tegas H Ii Somantri.

Menjawab Tantangan Zaman

DR Bobang Noorisnan, M.Ag, salah satu dosen pengajar  STIT At-Taqwa Bandung menambahkan, untuk menjawab tantangan zaman dan bagi SDM Indonesia kedepannya, pihaknya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. 

Di antaranya, seperti di dunia industri untuk memastikan kurikulum yang diterapkan relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Juga, bekerja sama dengan banyak pihak lainnya, seperti dengan Lembaga Pembinaan Qiroatul Qur’an (LPQQ).

“Dimana mualim, mualimahnya, para ustadz dan ustadzah-nya jadi mahasiswa dan belajar di kampus STIT Bandung di Rancaekek,” kata Bobang Noorisnan. (Imam M.Nizar)