Oleh: Imam M.Nizar
Bukan rahasia umum lagi. Di tengah derasnya arus kehidupan modern, banyak orang merasa terhimpit, terjebak oleh rutinitas kesulitan rezeki yang seret, hati yang gelisah, dan masalah yang datang bertubi-tubi.
Dalam kelelahan itu, manusia sering mencari solusi pada logika dan usaha. Tetapi lupa bahwa ada satu jalan lembut yang dijanjikan Allah, yakni istighfar.
Sebagaimana diungkapkan oleh ustaz Abdul Somad, “Siapa yang memperbanyak istighfar, kesempitan hidupnya akan dikasih Allah kelapangan.”,terangnya via saluran resmi WhatsApp, Senin (13/10/2025)
Ungkapan sederhana itu sesungguhnya bukan sekadar nasihat moral, melainkan formulasi spiritual yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Kekuatan Istighfar dalam Hidup
Allah SWT menegaskan dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ
“Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun
QS. Nūḥ:10
يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ
“(Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkanhujan yang lebat dari langit kepadamu,”
QS. Nūḥ:11
وَّيُمْدِدْكُم بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ
“memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”
QS. Nūḥ:12
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang pengampunan, tetapi tentang rezeki, keberkahan,dan kelapangan hidup.
Di dalam istighfar, tersimpan janji Allah bahwa siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus, akan diberi jalan keluar dari kesempitan apa pun.
Rasulullah SAW pun bersabda (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah):
“Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitannya, kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Hadis ini menegaskan bahwa istighfar bukan sekadar doa penghapus dosa, melainkan energi ruhani yang menata ulang kehidupan seorang hamba. Ketika lidah melafalkan “Astaghfirullah”, sebenarnya hati sedang mengetuk pintu langit, meminta rahmat agar hidup yang sempit dijadikan lapang oleh kasih Allah.
Istighfar: Nafas Ruhani yang Menyejukkan
Ustaz Abdul Somad sering mengingatkan, “Jangan anggap istighfar hanya bacaan penghapus dosa. Ia adalah napas ruhani, penghubung antara hati manusia yang kotor dengan rahmat Allah yang tak berbatas.”
Dalam setiap lafaz istighfar tersimpan pengakuan, kejujuran, dan kepasrahan.
Ia menundukkan ego, menenangkan jiwa, dan membuka ruang bagi pertolongan Ilahi.
Bila manusia terus-menerus beristighfar, berarti ia sedang menyucikan jalannya menuju ridha Allah, menghapus debu kesalahan yang menutupi cahaya di dalam hatinya.
Di Balik Kalimat yang Pendek
Barangkali, kelapangan hidup yang kita cari bukan pada banyaknya harta, tetapi pada tenangnya hati.
Dan barangkali pula, keberuntungan yang kita kejar bukan pada jabatan tinggi, melainkan pada ampunan yang turun saat kita berbisik lirih: “Astaghfirullah…”
Sebab, di balik kalimat pendek itu, ada samudra kasih yang tak terhingga.
Istighfar mengajarkan bahwa kesempitan hidup bukan berarti Allah menjauh, tetapi justru tanda Ia ingin kita kembali mendekat.
Maka, bila hari terasa berat, jangan buru-buru mengeluh. Mungkin bukan dunia yang sempit, melainkan hati kita yang kurang beristighfar. (KH***)
