Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd
Terkadang aku duduk dalam diam, bukan untuk menambah hafalan atau menata catatan kajian. Akan tetapi, memikirkan satu kegelisahan yang semakin sering mampir. Mengapa masih ada yang datang ke majelis ilmu, ruku sujud bersama, tampa membawa hati?
Kita masih menemukan orang yang seperti itu — duduk di lingkaran pengajian yang sama, namun merasa berada di tingkatan yang lebih tinggi dari yang lain.
Mereka mengangkat dirinya sebagai hakim yang menentukan siapa yang pantas dekat dan siapa yang harus menjauh.
Majelis ilmu seolah menjadi milik segelintir orang yang merasa telah selesai belajar, padahal ilmu itu sendiri tak pernah bertepi.
Dalam suasana seperti itu, tak sedikit jema’ah yang sebenarnya ingin istiqomah hadir, tapi langkah mereka patah oleh tatapan dan sikap mereka yang merasa telah tiba di puncak kesalehan.
Bukan materi kajian yang berat, bukan pula jarak masjid atau mushola yang jauh, melainkan manusia yang mengaku mencari ridho Allah, tapi perilakunya justru membuat orang lain menjauh dari Allah.
Aku teringat pesan ustaz pesohor negeri ini dalam tausyiahnya via saluran resmi WhatsApp.
Dan pesan itu selaras dengan nasihat lembut KH. Quraish Shihab yang pernah mengingatkan bahwa:
“Seburuk-buruknya orang, kalau masih hidup, punya peluang untuk jadi baik. Allah memberi peluang, kenapa Anda yang bukan Tuhan menghambatnya? Maka minimal doakan. Yang bisa merubah itu do’a kita. Allah yang berwenang merubahnya,” papar ustaz Adi Hidayat.
“Kesombongan itu muncul dari ketidaktahuan seseorang tentang dirinya. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak punya alasan untuk merasa lebih tinggi dari siapa pun.”
Betapa dalam kalimat itu. Orang yang benar-benar berilmu, justru makin tawadhu. Sebab, ia mengerti betapa luasnya ilmu Allah dan betapa kecilnya dirinya. Maka, aneh saja bila seseorang yang baru mencelupkan jari ke samudra ilmu tiba-tiba merasa seperti penguasa lautan. Hem…..
Gus Baha pun pernah menyinggung fenomena ini dalam gaya khasnya yang sederhana tapi menghunjam.
“Orang itu kalau merasa paling benar, itu tandanya dia belum benar. Wong wong sing bener kuwi biasanya sungkan, takut menyakiti, karena ngerti dirinya ya banyak salahnya.”
Kalimat yang tampak ringan, namun mengandung tamparan halus bagi siapa saja yang merasa telah menjadi standar kesalehan bagi orang lain.
Padahal, Allah SWT sendiri berfirman, dalam surah Al – Hujarat, ayat 13.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Dan Rasulullah SAW mengingatkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Majelis ilmu seharusnya menjadi taman yang menenteramkan, bukan hutan belantara yang penuh mata tajam menilai kesalahan. Ia seharusnya menjadi rumah bagi orang-orang yang retak hatinya, bukan ruang sidang bagi yang merasa paling sholeh.
Sebab, bisa jadi, orang yang kita rendahkan hari ini adalah orang orang yang do’anya lebih didengar di langit, dibandingkan kita yang sibuk menakar kualitas iman orang lain.
Maka, jika ada yang perlu kita tanyakan dalam hati, mungkin bukan siapa diantara kita yang lebih baik. Melainkan, Apakah kehadiranku di majelis ini memudahkan orang mendekat kepada Allah, atau justru menjauh dari pintu -Nya?
Pertanyaan ini, tak ada jawabannya pada rumput yang bergoyang . Akan terasa, saat kita melangitkan do’a disenyapnya malam penuh air mata. (KH/***)
