Oleh: Imam M.Nizar
Dalam siaran kajian yang dibagikan lewat kanal resminya, KH. Bahauddin Nursalim atau kerap disapa Gus Baha menyampaikan sebuah kalimat pendek, sarat maknanya.
“Bila kamu merasa kehilangan sesuatu dalam dirimu, sebenarnya kamu lupa bahwa segala sesuatu milik Allah SWT.” begitu tulisnya, via saluran resmi, WhatsApp Senin ( 13/10/2025)
Kalimat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, di balik kesederhanaan,tersimpan samudra makna yang luas. Ia menembus dinding pikiran dan menyentuh relung hati yang paling dalam. Terutama, bagi mereka yang tengah bergulat dengan rasa kehilangan. Misalnya, kehilangan orang yang dicintai, rezeki yang tak lagi lancar, atau mimpi yang pupus di tengah jalan.
Milik Siapa Sebenarnya?
Gus Baha sering mengajak umat Islam untuk memandang hidup melalui kacamata tauhid. Segala yang ada di dunia ini, kata beliau, bukan benar-benar milik manusia. Melainkan, amanah sementara. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjaganya sebentar — sebelum semuanya dikembalikan kepada Sang Pemilik sejati.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an menjadi penegas dari hakikat itu:
Allah SWT berfirman:
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
QS. Al-Baqarah:284
Akan tetapi, manusia sering lalai. Saat diberi, kita merasa berhak. Saat diambil, kita merasa dizalimi. Padahal, semua hanya sedang berjalan sesuai takdir-Nya. Tak ada yang hilang, kecuali kesadaran bahwa semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Kehilangan Sebagai Ujian Cinta
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia mengucap: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un,’ melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan hanya penyejuk bagi yang berduka. Tapi, juga pelajaran tauhid yang mendalam. Bahwa, kehilangan bukan tanda kebencian Allah, melainkan ujian cinta. Sebab, hanya kepada hamba-hamba pilihan-Nya Allah berkenan menguji dengan kehilangan, agar mereka belajar makna ikhlas dan ridho.
Gus Baha menegaskan dalam salah satu pengajiannya, “Kadang Allah mengambil sesuatu dari kita bukan karena Dia ingin menghukum, tapi karena Dia ingin kita kembali belajar bersandar hanya kepada-Nya.”
Kalimat itu menampar kesadaran kita. Betapa sering hati ini berpaut terlalu kuat pada dunia, hingga lupa bahwa semua yang kita cintai, orang tua, anak, istri, cucu, mantu, tak lain hanyalah titipan yang bisa kembali kapan saja.
Menemukan Diri Dalam Kehilangan
Dalam sunyi kehilangan, sebenarnya Allah sedang berbicara lembut kepada kita. Ia memanggil dengan cara yang paling halus, melalui perpisahan, ujian, atau takdir yang tak bisa ditolak. Di situlah letak keindahan takdir Ilahi.
Kehilangan bukan akhir, tapi awal dari kesadaran baru. Bahwa, kebahagiaan sejati bukan pada memiliki, melainkan pada kemampuan untuk melepaskan dengan hati yang tenang.
Ketika seseorang bisa berkata dengan yakin, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un,” ia sedang menyatakan keimanan tingkat tinggi. Bahwa, dirinya, hidupnya, dan segalanya hanyalah milik Allah.
Jalan Pulang ke Hati yang Tenang
Kehilangan adalah guru kehidupan. Ia mengajarkan kita untuk tidak sombong saat diberi, dan tidak putus asa saat diambil. Karena hakikatnya, tidak ada yang hilang bagi orang yang mengenal Allah.Seba, ia tahu, semua yang pergi hanyalah berpindah tempat, menuju sisi Tuhan yang Maha Menjaga.
Gus Baha pernah menutup salah satu pengajiannya dengan kalimat menyejukkan.
“Jangan takut kehilangan, sebab yang sejati tak akan pernah hilang. Yang pergi hanya dunia, tapi yang tinggal adalah hubunganmu dengan Allah.”
Maka, bila hari ini kita sedang kehilangan sesuatu yang kita cintai, jangan buru-buru menyesal. Tarik napas perlahan, tundukkan hati, dan bisikkan dengan lembut.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un.” Sebab setiap kehilangan adalah panggilan untuk pulang.
Pulang kepada kesadaran, bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki — kecuali Allah SWT. (KH/***)
