Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd
Aku selalu belajar untuk mengalah di hadapan sosok yang kupandang berilmu, apalagi jika beliau lebih tua, lebih dulu mengarungi gelombang kehidupan atau lebih banyak menelan pahit getir pengalaman.
Ada adab yang selalu diajarkan sejak kecil: Hormatilah orang berilmu, utamakanlah yang lebih sepuh, dahulukan yang telah mendahuluimu. Begitu kata guru-guru kita.
Namun, waktu bergeser mengajarkan sesuatu yang lain. Ternyata tidak semua yang berilmu otomatis beradab. Dan, tidak semua yang cerdas otomatis bijaksana, serta tidak semua yang tua otomatis luhur pekertinya.
Nyelenehnya, kerap digaungkan oleh teman kami: Tua itu pasti, dewasa, bijak belum tentu….. He he he he, benar juga ya.
Belakangan, aku memahami bahwa ilmu itu benar-benar bagaikan cahaya, sebagaimana kata para ulama. Cahaya itu hanya turun ketika Allah SWT mengizinkan. Ia menembus hati orang yang tunduk, menetap di kepala orang yang rendah diri di hadapan kebenaran.
Imam Malik suatu ketika menegur muridnya yang datang hendak menuntut ilmu tanpa adab. Beliau berkata, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Karena adab adalah pintu, sedang ilmu hanyalah tamu yang mulia. Bagaimana mungkin tamu masuk jika pintunya saja tak disiapkan?
Allah SWT sendiri menegaskan,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Mujādalah:11
Tetapi derajat itu bukan sekadar karena hafalannya banyak, bukan karena kepalanya penuh teori, bukan pula karena lisannya fasih berargumentasi. Derajat itu terletak pada iman dan takwa. Dua hal ini yang melahirkan kerendahan hati dan akhlak yang lembut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Malik).
Lalu, apa artinya ilmu yang hanya berhenti di kepala, tetapi tidak turun ke hati? Apa nilainya kecerdasan yang menumpuk bagaikan buku perpustakaan, namun akhlaknya kerontang seperti tanah mati?
Ada orang yang pandai mengutip ayat, tetapi tidak pandai menahan lidah.
Ada orang yang cepat menyalahkan, tetapi lambat memperbaiki diri.
Ada yang merasa tinggi karena ilmunya, padahal lupa bahwa keangkuhan adalah pakaian yang hanya layak bagi Tuhan.
Ironisnya, sebagian orang memamerkan ilmu seperti memamerkan lukisan mahal. Ya ya ya….. dipajang tinggi-tinggi supaya semua bisa melihat dan memuji.
Padahal, ilmu yang tidak disertai adab justru memalukan pemiliknya. Ia seperti lentera yang dinyalakan bukan untuk menerangi, tetapi untuk menyilaukan orang lain, he he he…. Padahal cahaya sejati, tidak membuat orang silau, ia menuntun, menghangatkan, dan meneduhkan.
Satir kehidupan sering kali memperlihatkan hal yang pahit: Yang katanya berilmu, justru paling mudah meremehkan. Yang katanya cerdas, justru paling keras kepala. Ehem, yang katanya paham agama, justru paling kasar tutur katanya.
Seakan ilmu mereka hanya bertengger di atas kepala, tidak pernah turun ke wajah, tidak pernah menyentuh perilaku, tidak pernah membasuh hati.
Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim).
Dan kesombongan paling halus adalah ketika seseorang merasa bahwa ilmunya membuatnya lebih berhak merendahkan orang lain. Naudzubillah Min Dzalik
Maka, aku belajar satu hal, dari pengalaman: Yang disebut sebut narasiku tendensius, ternyata tak butuh waktu lama, tabir mengungkap dengan sendirinya.Terang benderang, itu fakta, bukan hooaks, bukan tendensius dan ilusi.
Mengalah bukan berarti kalah, kadang itu cara paling halus menjaga diri dari keangkuhan orang lain. Biarkan dia berkata lain dibelakangku. Kebenaran mencari jalannya sendiri.
Aku belajar, bahwa adab yang baik bukan untuk membalas, tapi untuk menjaga agar hati tetap bersih.
Aku belajar, bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah beban: Semakin banyak, semakin membuat seseorang tersungkur oleh kesombongannya sendiri.
Dan, pada akhirnya aku belajar pula bahwa cahaya ilmu tidak pernah bisa dipaksa. Ia hanya datang kepada hati yang tunduk, bukan kepala yang mendongak.
Karena yang menentukan mulianya seseorang bukan jumlah ilmunya, tetapi seberapa jauh ilmu itu mengubahnya menjadi manusia yang santun, rendah hati, halus perangainya, dan lapang hatinya.
Sebab ilmu tanpa adab hanyalah gelap yang menyamar sebagai cahaya. Sama halnya “filosofi” jadul: Teriknya matahari, tak membakar tubuhmu. Hanya senyap senyap batin yang mengakui sebuah keangkuhan dalam diam. (KH/***)
