Humaniora
Beranda » Humaniora » Ketika yang Dipandang Bukan Sosok Kemarin

Ketika yang Dipandang Bukan Sosok Kemarin

Foto ilustrasi - Mutiara Quran
Foto ilustrasi - Mutiara Quran

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd 

Ada dua kutipan tausyiah pendek dari Gus Baha di saluran resminya pada hari dan waktu yang berbeda. Pertama, katanya, “Hiduplah dengan rendah hati, karena kebesaran hati akan membuat hidup lebih bermakna.” 

Lantas, beliau juga mengungkapkan ‘kata-kata mutiara’, “Jangan terlalu cepat menilai seseorang. Bisa jadi yang kamu lihat hari ini bukan lagi dirinya yang dulu,” jelasnya. 

Sebuah narasi indah, bila menjadi satu kesatuan utuh, menjadi tamparan halus bagi jiwa-jiwa yang merasa ujub — dadanya membusung oleh ilmunya, oleh gelar akademiknya, oleh jumlah kitab yang pernah dibacanya, atau oleh saldo rekening yang dianggapnya sebagai barometer kasta manusia. 

Heem padahal, sejarah manusia sering membuktikan,  mereka yang merasa paling tinggi biasanya sedang berdiri di atas pijakan paling rapuh. Filosofi itu berbalik, bak cermin bisu dan buram. 

[Cerpen] Lelaki Galau Berjalan Sepi di Tengah Keramaian

Dalam arus kehidupan yang kerap memaksa kita berlomba menilai, dari kedua kalimat Gus Baha itu seperti cermin bening. Sayangnya, sering kita arahkan kepada orang lain, bukan untuk diri sendiri. Kita lupa bahwa Allah SWT telah lebih dulu mengingatkan, 

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ  هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ 

“(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” 

QS. An-Najm:32 

Ayat ini seolah menampar halus mereka yang suka menimbang kualitas orang lain dengan timbangan yang bahkan tak sanggup digunakan untuk mengukur dirinya sendiri. 

[Cerpen] Ketika “Tangan” Tak Sampai

Dalam hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi. 

Namun, sebagian dari kita tetap berdiri dengan dada yang menggelembung, merasa paling lurus, paling paham, paling berhak menilai perjalanan spiritual orang lain. Seakan-akan surga sudah membukakan pintu khusus sambil menyiapkan karpet merah untuknya. 

Padahal, siapa tahu orang yang kita pandang rendah hari ini adalah orang yang semalam menangis dalam sujudnya?

Siapa tahu yang kita anggap jauh dari kebaikan justru sedang menapaki jalan taubat yang tak kita lihat? 

Siapa tahu, seperti kata Gus Baha, yang kita pandang tadi, bukan lagi sosok yang kemarin? 

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Sementara itu, mereka yang merasa paling berilmu terkadang lupa bahwa ilmu bukanlah mahkota yang membuat kepala harus selalu lebih tinggi dari bahu orang lain. 

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa penyakit ahli ilmu bukan ketidaktahuan, melainkan merasa sudah tahu segalanya. Rasa cukup yang keliru itu melahirkan ujub, dan ujub melahirkan sikap meremehkan yang lain.

Dan, itulah salah satu, penyakit orang “sholeh”. Orang sibuk, penyakitnya lalai. Keduanya, penyakit “halus” ini, sama sama mengesampingkan nurani, dari kehadiran Allah SWT. 

Dalam dunia yang kian penuh sorot mata dan opini serampangan, dua nasihat Gus Baha ini adalah rem halus agar kita tidak tergelincir pada kesombongan yang tak terasa. 

Hidup dengan rendah hati bukanlah merendahkan diri, melainkan memahami bahwa manusia bergerak, berubah, tumbuh, dan setiap jiwa punya cerita yang tidak selalu tampak di permukaan. 

Dan, menahan diri dari menilai terlalu cepat adalah bentuk kecerdasan hati. Sebab, seperti yang diingatkan Al-Qur’an, “Bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 282). Ilmu sejati lahir dari ketakwaan, bukan dari ambisi untuk terlihat lebih tinggi dari sesama. 

Maka, barangkali sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah yang kita pandang hari ini benar-benar sosok yang kemarin? Atau justru diri akulah yang tak kunjung berubah, masih sibuk merasa paling pantas menilai, sementara jiwa sendiri tak pernah mau ditata. 

Hal ini menjadi sebuah renungan kecil  — seraya aku nyerupt kopi senja, tampa udut. Jika mau jujur,  narasi ini lebih layak diarahkan pada diri kita sendiri, bukan untuk siapa pun. (KH/***)