Oleh: Cici Cahyati
KABARHIBURAN.id – Di sebuah ruang kelas, di SMK Ar-Rafi BHS Sumedang, Jawa Barat, Sabtu pekan silam itu, tak hanya diisi oleh deretan kursi dan papan tulis. Ada semangat yang menyala dari sepuluh pasang mata — yang lulus dari penyaringan 250 orang — tangan mereka sesekali gemetar, namun hati yang mantap ingin berubah: ingin berani bicara, tampil, dan menjadi pribadi yang membawa makna.
Itulah suasana yang tercipta saat Komunitas Muslimah Berhijrah Sumedang (KMBS) menggelar pelatihan public speaking, sebuah langkah nyata untuk membekali para anggotanya dengan keterampilan berbicara di depan umum — sesuatu yang selama ini dianggap sulit dan menakutkan, khususnya bagi sebagian perempuan.
Dalam pelatihan yang dikemas hangat namun berbobot ini, hadir Coach Rudi Susanto, S.E —- seorang praktisi public speaking, Owner WAU, sekaligus Ketua XBank Sumedang.
Dengan gaya santainya yang khas, ia membawa peserta melewati berbagai lapisan ketakutan: dari gugup saat membuka suara, hingga tantangan menyampaikan pesan dengan penuh keyakinan.
“Public speaking bukan sekadar bisa bicara di depan banyak orang, tetapi tentang bagaimana kita mempengaruhi, menginspirasi, dan menghadirkan versi terbaik dari diri kita kepada dunia,” ujar Coach Rudi, dalam sesi yang memicu banyak anggukan setuju.
Melalui simulasi, praktik langsung, hingga feedback yang jujur namun membangun, para peserta belajar bahwa keberanian itu ternyata bisa dilatih, dan kepercayaan diri adalah otot yang bisa diperkuat — asal berani mencoba.

Hijrah Tak Lagi Diam
Umi Aida, Ketua KMBS, memaparkan bahwa pelatihan ini bukan sekadar pelengkap program, melainkan bagian penting dari misi komunitas: membentuk muslimah yang tangguh secara spiritual dan sosial.
“Kami ingin para muslimah di KMBS tidak hanya tumbuh secara ruhiyah, tetapi juga berdaya secara personal. Dengan kemampuan public speaking, mereka bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Tidak heran, dalam pelatihan ini, para peserta tidak hanya duduk diam menerima materi. Mereka aktif bertanya, mengutarakan pengalaman, bahkan mencoba berdiri di depan peserta lain — sesuatu yang mungkin sebelumnya hanya sebatas mimpi.
Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa pelatihan ini menyentuh ruang-ruang yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan teknis. Ia menyentuh hati yang selama ini ragu, dan menyentuh mimpi yang selama ini tertunda.
Salah seorang peserta bahkan berujar, “Dulu saya selalu merasa suara saya kecil, tidak penting. Tapi setelah pelatihan ini, saya sadar: saya punya cerita, saya layak untuk didengar.”
Dengan wajah-wajah yang pulang membawa senyum dan tekad baru, pelatihan ini menjadi simbol bahwa hijrah bukan berarti diam — melainkan bergerak, tampil, dan menginspirasi.
Harapan untuk Muslimah Sumedang
Melalui pelatihan ini, KMBS membuktikan bahwa komunitas bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi wadah pembentukan karakter.
Diharapkan ke depan, akan lahir lebih banyak muslimah Sumedang yang percaya diri berbicara di ruang publik, menyampaikan kebaikan, dan menjadi cahaya perubahan — mulai dari lingkup keluarga, komunitas, hingga negeri tercinta.
Karena terkadang, perubahan besar bermula dari satu kalimat yang berani diucapkan — meski dari ruang lingkup kecil. (KH/***)
