Humaniora
Beranda » Humaniora » Makna Hidup dalam Pandangan Gus Baha: Bukan Tentang Kalah atau Menang, Tetapi Bermanfaat bagi Sekitar 

Makna Hidup dalam Pandangan Gus Baha: Bukan Tentang Kalah atau Menang, Tetapi Bermanfaat bagi Sekitar 

(Foto ilustrasi - istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd 

“Hidup itu bukan soal menang atau kalah, berhasil atau gagal,” terang KH. Ahmad Bahauddin Nursalim – kerap disapa Gus Baha – dalam pesan singkatnya yang lembut, namun sarat makna, melalui saluran resminya melalui WhatsApp, Jumat (7/11-2025). 

“Tetapi seberapa besar kita bisa memberi manfaat bagi sekitar,” lanjutnya. 

Kalimat tersebut, begitu sederhana, namun menampar kesadaran banyak hati yang sering kali menilai hidup dari ukuran duniawi. 

Semisal, jabatan, materi, dan popularitas. Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran mulia seorang manusia bukan terletak pada hasil yang tampak, melainkan pada kemanfaatan yang ia tebarkan. 

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni). 

Ayat Al-Qur’an pun menegaskan arah hidup serupa. Allah berfirman. 

Allah SWT berfirman: 

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ 

“Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”

(QS. Al-Māidah [5]: 32). 

Dari sini, nasihat Gus Baha bukan sekadar motivasi, tapi sebuah pengingat ruhani bahwa ukuran keberhasilan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang kita bagi.

Bahwa, hidup yang bernilai bukan yang tinggi di atas orang lain, melainkan yang ringan tangan menolong sesama. 

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan milik mereka yang dipuja dunia, melainkan milik mereka yang dicintai langit, sebab manfaatnya dirasakan di bumi. (KH/***)