SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » MERAWAT CINTA, SAYANG dan KASIH di RUMAH: Amanah yang Lengah Bagi Seorang Ayah

MERAWAT CINTA, SAYANG dan KASIH di RUMAH: Amanah yang Lengah Bagi Seorang Ayah

Oleh: Iman M.Nizar, SPd.

Amanah terberat bagi seorang laki-laki yang telah berkeluarga, memiliki istri dan anak, bukanlah semata-mata menghadirkan nafkah ke meja makan dan rutunitas tabungan, meski nilainya tak seberapa. Lebih dari itu, ia dituntut menghadirkan dirinya: utuh, hangat, dan penuh kasih di tengah keluarga yang Allah titipkan kepadanya.

Sebab, hidup berumah tangga, tidak hanya dibangun oleh lembaran rupiah atau dolar.Tetapi juga, oleh perhatian yang tak terjeda, pelukan yang menenangkan, sinergi do’a yang menguatkan, serta percakapan yang menghidupkan jiwa.

Hemm…
Sayangnya, tidak sedikit para ayah — termasuk sang penulis narasi ini, lengah pada sisi amanah tersebut. Bukan karena tak sayang pada keluarga. Mungkin, karena karakter yang terbentuk dari keluarga inti. Dimana saat masih lajang,  tak pernah ada percakapan yang menyejukan dalam bahasa ibu di meja makan dengan keluarganya. Dan, keburukan ini ikut terbawa saat berumah tangga. Di tambah lagi saat “kemarin hidup”, berkutat pada rutinitas pekerjaan sebagai jurnalis dan pencipta lagu. Banyak penulis, seperti aku ini, kerap berangkat gawe  terkadang sebelum matahari menyapa. Dan, balik pulang, ketika malam telah memeluk bumi dalam sunyi. Bahkan, nyaris matahari kembali terbit, baru akan OTW mulih he he he he…..Mohon dimaklum dech.

Menurt para ulama dan orang bijak, lelah mencari rezeki memang mulia.Tetapi, kesibukan itu, acap kali diam-diam mencuri kesempatan untuk tak bisa menyaksikan anak bertumbuh. Seperti, tak mendengar cerita sederhana dari istri, atau sekadar menemani keluarga menikmati secangkir teh hangat selepas Magrib, misalnya.

KOPDAR KE-8 LPQQ KOTA DEPOK: Merajut Ukhuwah, Menuju 100 KBMA. Sinergi, Kolaborasi, Tumbuh Berdampak

Padahal, waktu yang hilang, tak pernah bisa diputar atau dibeli kembali.
Anak-anak, tidak menghitung berapa besar penghasilan ayahnya? Mereka, lebih mengingat, siapa yang menemani ketika belajar bersepeda. Siapa yang menggenggam tangannya saat takut. Siapa yang hadir, ketika mereka gagal, lalu berkata,: “Ayah percaya, kamu bisa bangkit.”

Ironisnya, sebagian ayah, baru menyadari makna kehilangan fase seperti itu, ketika anak-anak telah tumbuh dewasa. Mereka lebih akrab berbincang dengan ibunya, lebih mudah mencurahkan isi hati kepada sang bunda. Sementara, sang ayah perlahan menjelma seperti tamu terhormat di rumahnya sendiri: dihormati, tetapi terasa berjarak. Bahkan, ada pelangi yang bias, jika duduk di meja makan bersama. Kadang, seperti mendengarkan satu lagu yang sama judulnya. Namun, disenadungkan dengan kunci dan nada dasar yang berbeda. Satu di mayor, satunya di minor. Tak sefrekwensi ceritanya. Terkadang pula, apa yang sedang dibahas oleh para anak — tak nyambung saat disikapi sang ayah. Bahkan, menjadi bahan tertawaan sang istri. Begitulah seorang ayah yang tertinggal waktu.
Di situlah sesungguhnya letak “kemiskinan” yang tidak tercatat dalam laporan keuangan keluarga. Ya ya ya ya….Mohon dimaafkan dech.

Allah SWI telah mengingatkan dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
(QS. At-Tahrim : 6)

Belajar Tak Pernah Mengenal Usia: Kembali ke Kampus Lama, Menjemput Cahaya Ilmu

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kewajiban mengajarkan agama. Melainkan, juga menegaskan bahwa seorang kepala keluarga bertanggung jawab membimbing, mendidik, dan menjaga keluarganya menuju keselamatan dunia dan akhirat. Sesalnya, bagi sang penulis saat ini —  hanya menyerahkan pendidikan anak anak pada  perguruan sekolah yang “cakep” . Berintegritas tinggi dan akreditasi sangat baik dan mutu sudah teruji dari tahun ke tahun. Kelulusan sekolah tersebut pun sangat gemilang membanggakan para wali murid.

Meski demikian, ternyata, membimbing itu tak cukup dari kejauhan. Ia memerlukan perhatian, kehadiran, keteladanan, dan kedekatan hati.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam urusan keluarga. Meski memikul amanah sebagai pemimpin umat. Beliau tetap meluangkan waktu bercengkerama dengan istri dan anak-anak. Beliau bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi No. 3895).

Dalam hadis tersebuti, ukuran “terbaik” bukanlah siapa yang paling kaya, paling sibuk, atau paling bergengsi. Ukurannya, justru sederhana, namun berat dijalaninya: bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya.
Mari kita bercermin. Ehem….
Jangan-jangan kita begitu ramah kepada rekan kerja? Tetapi, hemat senyum kepada istri dan anggota keluarga. Begitu cepat membalas pesan atasan, tetapi kerap menunda menjawab pertanyaan anak. Begitu mudah meluangkan waktu untuk rapat.  Atau sekadar kongko kongko bergaul. Tetapi, merasa lima belas menit saja bermain bersama buah hati atau duduk bersana istri, menikmati sore hari — baginya kemewahan tersendiri — yang sulit dicapai. Betapa anehnya ya…..

Kita bekerja keras demi keluarga.Tetapi keluarga justru kekurangan diri kita.
Satirnya, ada ayah yang hafal jadwal rapat selama sebulan penuh. Tetapi lupa kapan ulang tahun anak dan istrinya he he he …. Ada yang hafal target penjualan perusahaan dan waktu deadline.Tetapi, tidak tahu pelajaran apa yang sedang dipelajari putrinya di sekolah. Ada pula yang mampu membaca laporan keuangan berlembar-lembar. Namun, gagal membaca kesedihan yang tersimpan di mata sang istri.

Ya, begitulah jejak sang penulis dahulu. Barangkali, bukan karena tidak mencintai keluarga. Mereka, ada juga yang seperti penulis, terlalu sibuk mengejar kehidupan, hingga lupa menikmati kehidupan itu sendiri.
Padahal, rumah bukan sekadar tempat pulang. Rumah adalah madrasah pertama yang membentuk karakter, akhlak, dan masa depan anak-anak. Di sanalah peran ayah bukan hanya pencari nafkah. Melainkan, guru kehidupan, sahabat, pelindung, sekaligus sumber rasa aman. Berbenahlah sebelum senja menutup mata….

Sekolah Lagi di Usia Senja: Ketika Ego Dipaksa Duduk Sebangku dengan Keikhlasan

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya… Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Al-Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829).

Karena itu, sukses seorang ayah tidak hanya diukur dari luasnya rumah yang dibangun. Tetapi, lebih dari hangatnya suasana rumah yang diciptakan. Tidak hanya dari kendaraan yang diparkir di garasi. Tetapi, juga dari do’a-do’a anak yang mengalir tulus untuknya.Tidak hanya dari tabungan yang diwariskan, kalau ada….Tetapi juga dari akhlak yang ia tanamkan.

Sesungguhnya, keluarga yang ideal adalah keluarga yang saling menguatkan menuju ridho Allah SWT. Ketika ayah menjadi teladan, ibu menjadi penyejuk. Dan, anak-anak tumbuh dalam cinta serta iman. Maka, rumah itu akan menjadi taman yang meneduhkan di dunia, sekaligus jalan menuju kebahagiaan di akhirat.

Selagi masih ada waktu, pulanglah para ayah  — tidak hanya membawa rezeki. Bawa pula senyum, pelukan, telinga yang mau mendengar. Dan hati yang siap membersamai. Sebab, anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna, melainkan ayah yang hadir.
Sekali lagi, “berbenah” sebelum tiba masanya, ketika rumah masih berdiri megah. Tetapi, ruang-ruangnya telah kehilangan suara tawa kebersamaan — tersisa hanya foto-foto lama yang diam. Sementara, waktu telah memilih untuk tidak pernah kembali lagi.
*****