Humaniora
Beranda » Humaniora » Ngabuburit di Lokasi Populer dari Pantai Losari, Braga, Monas hingga Masjid Istiqlal

Ngabuburit di Lokasi Populer dari Pantai Losari, Braga, Monas hingga Masjid Istiqlal

Skydeck Bundaran HI
Suasana ngabuburit di Skydeck Bundaran HI, Jakarta.

KABARHIBURAN.id – Saat menjelang berbuka puasa, banyak umat Islam yang menunggu beduk berbuka puasa dengan caranya tersendiri. 

Ada yang mengisi waktu dengan amalan amalan ibadah, seperti membaca Al Qur’an, zikir, bertasbih, bersholawat dan banyak lagi. Tentunya, kegiatan ini, banyak dilakukan di tempat tempat ibadah, seperti masjid, mushola atau surau. 

Namun, tak sedikit pula yang menunggu beduk berbuka puasa di “alam terbuka”. Istilah menunggu beduk berbuka puasa seperti itu disebut “ngabuburit”. 

Sebenarnya, istilah asal muasal kata ngabuburit  berasal dari bahasa Sunda, yang merupakan bahasa daerah di Provinsi Jawa Barat.

Menurut kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda. Kata ngabuburit berasal dari kalimat galantung ngadagoan burit atau bersantai sambil waktu sore. 

Gema dari Mimbar Masjid Untuk Luka dan Duka Sumatera 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ngabuburit atau mengabuburit, artinya menunggu adzan magrib menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadan. 

Menurut beberapa sumber, istilah “ngabuburit” telah ada sejak zaman kolonial Belanda di Indonesia, yaitu sekitar abad ke-19 atau ke-20. 

Banyak dari program program televisi swasta siaran nasional atau lokal yang tak malu-malu lagi memberikan nama program menunggu waktu adzan magrib selama bulan suci Ramadan dengan tajuk Ngabuburit. 

Ngabuburit
Ngabuburit di Masjid Al-Hijrah Perum Pangauban Silih Asih, Blok Q, Desa Pangauban, Batujajar, Bandung Barat.

Sekarang, istilah ngabuburit  telah menjadi sinonim dengan aktivitas menunggu waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, dan biasanya dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan santai, seperti bermain, berjalan-jalan, atau sekadar berbincang-bincang dengan teman, kerabat atau tetangga di sekitar masjid tak jauh dari tempat tinggal mereka. Bahkan,  ada yang ngabuburit di tempat tempat populer atau top. 

Lokasi Populer Ngabuburit 

Ketika Ilmu Tak Disertai Adab 

Seperti, ngabuburit di Pantai Losari, Makassar. Pantai terkenal dengan sunsetnya yang indah. Di pantai ini, banyak penjual takjil saat Ramadhan tiba. Dan, banyak yang ngabuburitdi di sepanjang tepi pantai seraya menikmati indahnya sunset. 

Di sekitar pantai, tepatnya di seberang jalan banyak resto yang menawarkan kuliner khas Makassar, seperti coto Makassar, sop konro, es teler dan lainnya. 

Di Jakarta Skydeck Bundaran HI, sekarang merupakan tempat ngabuburit yang populer di Jakarta. Terletak di atas Halte Bundaran HI, tempat ini menawarkan pemandangan kota yang menakjubkan, terutama saat sunset. 

Dari ketinggian, pengunjung dapat menikmati pemandangan ikonik Jakarta seperti Monumen Nasional (Monas), gedung-gedung pencakar langit, dan lalu lintas kota yang sibuk. 

Desain arsitektur unik, perpaduan antara garis modern dan elemen tradisional membuat setiap sudut di Skydeck menjadi spot foto yang menarik.

Delegasi 21 Negara Siap Ramaikan Pertemuan Akbar Bertema Ibadah Murni di ICE BSD Tangerang

Untuk mengunjungi tempat ini, jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen menarik. Dan melakukan tap-in dengan kartu elektronik atau e-money di gerbang masuk 

Ngabuburit di ikon Jakarta lainnya, seperti Monas, Kota Tua bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Pengunjung dapat santai di taman sekitar Monas, naik ke puncaknya untuk melihat sunset, atau berburu takjil di sekitar Lapangan Banteng. 

Tak jauh dari Lapangan Banteng  ada masjid terbesar di Asia Tenggara masjid Istiqlal. 

Masjid Istiqlal
Suasana ngabuburit di Masjid Istiqlal Jakarta.

Tempat ini saban bulan suci Ramadan, menjadi salah satu pilihan warga Jakarta atau dari wilayah lain, tempat ngabuburit yang nyaman. 

Panitia juga menyediakan nasi box untuk berbuka puasa hingga 4000 nasi box  dibagikan gratis pada pengunjung masjid. Di samping itu, juga masih tersedia kantin-kantin yang nyaman untuk bukber di sana. 

Masih di Jakarta, ngabuburit di Kota Tua Jakarta menawarkan suasana klasik dengan bangunan bersejarah. Pengunjung bisa keliling naik sepeda ontel, hunting foto vintage, mengunjungi museum, atau nongkrong di Café Batavia. 

Di Bandung, ada pasar tradisional Cihapit, pasar ini yang menawarkan berbagai jajanan dan takjil lezat. Pengunjung dapat menjelajahi pasar, berbelanja, dan memanjakan lidah khas kuliner khas di area ini. 

Tempat  lain di Bandung, ada alun alun. Di tempat ini,  menawarkan suasana kota yang ramai dan nyaman. Pengunjung dapat menikmati taman rumput sintetis, berbagai fasilitas umum, di depan masjid Raya Bandung serta dapat menikmati kuliner khas di sekitar sini. 

Uniknya, di Bandung ada jalan Braga. Tempat ini menawarkan suasana klasik dengan bangunan bersejarah. Pengunjung ngabuburit dapat menikmati berbagai kuliner dari cafe dan resto di sepanjang jalan tersebut seraya berjalan-jalan. 

Jauh dari tempat populer dan keramain. Ngabuburit di Mushola Nur Iman – insya Allah tahun depan menjadi Masjid Nur Iman – tak menghilangkan makna dari istilah ngabuburit itu sendiri. 

Para jamaah yang menunggu beduk buka puasa di mushola yang terletak di perbatasan Depok – Tangerang Selatan ini, selalu menyiapkan hidangan untuk bukber bersifat umum. 

Bukan sekadar makanan ringan, terkadang tersedia juga makanan berat. Seperti, nasi sate, nasi bakar, nasi kikil dan lainnya. 

Tradisi ngabuburit biasanya juga diisi tak terlepas dari aneka macam kegiatan. Seperti di Masjid Al-Hijrah di Perum Pangauban Silih Asih, Blok Q, Desa Pangauban, Batujajar, Bandung Barat. 

Ramadan tahun ini, DKM nya mempunyai program sedikit berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Program bertajuk ngabuburit  bersama Al-Hijrah ini diselenggarakan setiap hari Jumat dan Sabtu. Diisi dengan kegiatan kreativitas & kultum yang dibimbing oleh seorang pemateri menjelang adzan maghrib tiba. 

Di kesempatan ini, pemateri bukan hanya menguasai ilmu agama, namun juga harus punya talenta dalam membuat hasta karya agar anak-anak senang dan bahagia sehingga waktu menunggu adzan maghrib tidak terasa lama. 

“Alhamdulillah, Ramadhan kali ini ada kreativitas, anak anak selalu tak sabar ingin segera ke masjid,” ungkap seorang ibu yang akrab disapa Mamih Iqis, dirinya selalu hadir mengantar anaknya ke masjid dan selalu membantu menata makanan untuk ifthor bersama. 

“Iya, Alhamdulillah banget ada kegiatan positif seperti ini, semoga Ramadan tahun depan pun ada lagi seperti ini, makasih ya buat Bu Rosi, Bu Sri dan Bu Anne udah ngasuh anak-anak” ujar ibu muda dengan dua anak yang sering disapa mama Naira. (KH/Anne Y. Wachyuni/Akizar)