Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd
Dalam menikmati secangkir kopi pagi, tanpa udut, terkadang aku tergiang oleh omon-omon tak genah penuh syahwat, yakni upaya mencari “pembenaran” yang tak pernah mampu membedakan antara fakta dan hoaks. Antara yang tendensius atau sekadar ilusi.
Aneh memang, yang disebut fakta justru ternyata bukan hoaksnya, dan yang dicap hoaks, ternyata benar faktanya he he he…
Begitulah jika manusia berambisi bercokol di tempat milik banyak umat sambil meninggikan menara hatinya.
Pada akhirnya, waktu punya cara tersendiri untuk mengungkap terang-benderang semuanya. Semoga saja, “mata kata hati” mampu meredupkan ego.
Secangkir kopi yang kuseruput ini seolah menjelma jembatan renungan. Di sela uap hangatnya, manusia diingatkan, bahwa hidup ini selalu diuji oleh bisikan batin dan kabut informasi yang samar dan bias. Ada yang membawa pada kebenaran, ada pula yang menjerumuskan.
Al-Qur’an telah mengingatkan dalam surah Al-Ahzab ayat 70:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Akan tetapi, lidah manusia lebih sering condong pada apa yang ingin ia dengar, bukan pada apa yang benar adanya. Rasulullah SAW pun telah mengingatkan:
“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Begitu banyak orang terpeleset oleh kabar burung, oleh opini yang dipoles menyerupai mutiara, hingga tanpa sadar membangun “kebenaran versi diri sendiri.”
Di titik inilah, kopi pagi yang aku seruput menjadi saksi kecil, betapa mudah manusia terperangkap ilusi ketika hatinya tak dituntun kejernihan.
Gus Baha pernah berkata dalam satu pengajian lembutnya, “Yang paling membuat rumit hidup ini bukan masalahnya, tapi pikiran kita sendiri yang membuatnya kusut.” Betapa benar, bahwa ambisi dan prasangka manusia sering menjadi kabut yang menutupi cahaya kebenaran.
Ustaz Adi Hidayat juga pernah menegaskan, “Jika hati bersih, maka yang terlihat pun jernih. Tetapi jika hati kotor, maka segala yang tampak akan ikut keruh.”
Kalimat itu menampar lembut, mengingatkan bahwa kebenaran tak pernah bisa dilihat dari hati yang sedang mendirikan “menara tinggi” di dalam dirinya.
Padahal Nabi SAW telah mengingatkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Kesombongan itulah yang membuat seseorang membenarkan yang salah, dan mengelirukan yang benar — karena didorong syahwatnya.
Imam Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya Ulumiddin, “Andaikan manusia mengenal keburukan nafsunya sebagaimana ia mengenali aib orang lain, niscaya ia akan sibuk memperbaiki diri sepanjang hidupnya.”
Betapa dalam kalimat itu. Bahwa, musuh terbesar bukan berita palsu, bukan opini liar — juga bukan narasi yang dianggapnya tendensius, tetapi hawa nafsu yang terus membisikkan pembenaran terus menerus dipelihara.
Namun waktu adalah guru yang tak pernah alpa. Firman Allah begitu tegas:
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
“Katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isrā’: 81)
Perlahan namun pasti, waktu membuka tabir, memisahkan omon-omon tak genah dari fakta yang terpancang nyata.
Pada akhirnya, yang kita mohonkan hanyalah ketenangan dan kejernihan hati. Agar “mata kata hati” mampu meredupkan ego, meruntuhkan menara diri, dan memberi ruang bagi cahaya kebenaran bekerja sebagaimana mestinya.
Karena hati yang jernih adalah tempat turunnya rahmat, sementara hati yang keruh hanya mampu melihat bayangan dirinya sendiri.
Semoga kopi pagi ini menjadi pengingat kecil bagiku, bagi semua, bagi yang ingin membuka mata kata hatinya: Bahwa, kebenaran selalu lebih kuat dari pada suara siapa pun — seterang cahaya yang tak bisa dibendung oleh gelap. (KH/***)
