Humaniora
Beranda » Humaniora » Suara dari Mimbar Masjid Untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana di Sumatera

Suara dari Mimbar Masjid Untuk Saudara Kita yang Terdampak Bencana di Sumatera

(Foto ilustrasi - RRI)
(Foto ilustrasi - RRI)

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd 

Usai menunaikan sholat Jum’at (12/12/2025) di masjid yang hampir saban pekan menjadi persinggahan rohani bagiku, gema khutbah siang itu masih terpantul-pantul di telinga. 

Ada sesuatu yang membuat langkahku pulang terasa lebih perlahan, seolah hati diminta berhenti sebentar, merenungi kembali bait-bait yang baru saja disampaikan khotib. 

Dalam khutbahnya, khotib mengangkat makna Surah Asy-Syura ayat 30—ayat yang sering kita dengar, namun tak selalu kita resapi sepenuhnya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah akibat perbuatan tanganmu sendiri; dan Allah memaafkan banyak kesalahanmu.” 

Ayat itu terasa bagai cermin besar yang diletakkan di tengah-tengah jamaah, memaksa setiap diri untuk menatap ke dalam: Apa yang telah kita lakukan? dan apa yang seharusnya kita perbaiki? 

Kumpulan Puisi Ramadan

Khotib lalu menyentuh satu istilah yang sangat akrab namun sering terlewatkan maknanya—muhasabah. Introspeksi. Mawas diri. 

Bukan sekadar merenung, tetapi melakukan penilaian jujur terhadap arah hidup dan langkah-langkah yang kita tapaki. 

Ia mengingatkan bahwa muhasabah bukan hanya untuk pribadi, melainkan juga untuk umat. Sebab, setiap manusia adalah bagian dari mata rantai yang lebih besar. 

Khutbah itu kian lengkap ketika khotib menautkannya dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.” 

Sebuah kalimat pendek, tetapi cukup untuk menggugah rasa persaudaraan yang mungkin mulai samar di sela sibuknya hidup. 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Bahwa luka saudara kita sejatinya adalah luka kita sendiri. Duka mereka seharusnya mengetuk pintu empati kita. 

Pesan itu dipertegas lagi dalam sholat Jum’at, ketika di rakaat pertama dan kedua khotib memilih membaca Surah Al-Baqarah ayat 153–157—ayat-ayat tentang kesabaran, tentang keteguhan, tentang janji Tuhan bagi mereka yang diuji dan tetap bersandar pada-Nya.

Lantunannya menambah bobot renungan yang sejak awal khutbah sudah menekan lembut di dada. 

Semuanya terasa saling terhubung: ayat tentang musibah, seruan untuk bermuhasabah, ajakan untuk berempati, dan bacaan surah yang menenteramkan sekaligus meneguhkan. 

Seolah rangkaian ibadah siang itu disusun untuk menjawab satu kenyataan yang sedang terjadi. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera—Aceh, Sumbar, dan Tapanuli. Gempa, banjir, tanah longsor; duka yang datang silih berganti, menguji bukan hanya mereka, tetapi juga kepedulian kita. 

Dalam seruput kopi siang yang masih hangat dan sebatang rokok yang mengepul perlahan, kata-kata khotib kembali berputar di kepalaku.

Bahwa, musibah tidak hadir tanpa sebab: Ia adalah pengingat, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan bahwa seorang Muslim tidak boleh berpaling dari saudaranya yang tengah terluka. Begitulah Rasul menuntun kita. 

Sejenak aku menatap langit yang redup, seolah ikut menyimpan kepedihan bumi. Lalu, tanpa diminta, hati kembali bergumam: mungkin inilah saat paling tepat untuk muhasabah — untuk menajamkan empati, untuk memastikan bahwa iman tidak berhenti hanya pada renungan, tetapi menjelma menjadi kepedulian nyata.

Hayuk kita sisihkan rejeki yang kita punya, lewat tayangan video ini. Semoga bermanfaat byat saudara kita dan jiwa-jiwa kita. (KH/***)