Humaniora
Beranda » Humaniora » Teladan yang Tiada Tara

Teladan yang Tiada Tara

(Foto ilustrasi - Istimewa)
(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar 

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awwal 1447 H. 

Jangan lupa perbanyak sholawat, jika amal kita tidak sanggup menghapus dosa-dosa kita di akhirat kelak, satu satunya penolong kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad. 

اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد 

Narasi tersebut, ditulis oleh ustaz Adi Hidayat dalam dakwah hariannya via WhatsApp pada Jumat (5/9/2025) 

Kumpulan Puisi Ramadan

Hari kelahiran Rasulullah SAW bukan sekadar momentum sejarah. Ia adalah cahaya yang membelah gelapnya kejahiliyahan. Sebab Allah menegaskan: 

Allah SWT berfirman: 

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ 

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya [21]: 107). 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Ustaz Adi Hidayat di sini mengingatkan, rahmat Nabi bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Rahmat itu kelak bernama syafaat. Syafaat inilah yang menjadi penolong bagi orang-orang yang imannya masih dipenuhi noda dosa, sementara amalnya tak cukup menebus kesalahan. 

Maka, bagaimana cara kita mendekat kepada syafaat beliau? Tidak lain adalah dengan memperbanyak sholawat. Rasulullah SAW bersabda: 

“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

(HR. Tirmidzi). 

Sholawat adalah bahasa cinta. Ia adalah ikatan batin antara umat dengan Nabinya. Sebab bila cinta itu benar, ia pasti melahirkan rindu. Dan rindu yang sejati pada Rasulullah SAW diwujudkan dengan menghidupkan sunnah, meneladani akhlak, serta memperbanyak do’a do’a. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Dalam setiap untaian sholawat, sesungguhnya kita sedang mengikat janji: Ingin bersama Rasulullah SAW kelak, di hari yang tidak ada naungan selain naungan Allah. 

Ustaz Adi Hidayat sering menekankan, “Jangan sampai cinta kita hanya berhenti di lisan, tapi tidak berbuah amal. Sholawat itu do’a, tapi teladan Rasulullah itulah bukti.” 

Maka, momentum maulid ini bukan hanya seremonial. Ia adalah panggilan untuk mengukur sejauh mana kita meneladani Rasulullah SAW Sebab beliau pernah bersabda: 

“Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad). 

Mari jadikan hari ini pengingat: bila amal kita tidak cukup menghapus dosa, maka semoga shalawat dan kecintaan kita pada Rasulullah SAW kelak menjadi jalan syafaat di hadapan Allah. (KH***)