Humaniora
Beranda » Humaniora » Ketika Makmum Sedih Dipimpin Oleh Imam Yang Kurang Fasih Dalam Bacaan Al- Qur’an

Ketika Makmum Sedih Dipimpin Oleh Imam Yang Kurang Fasih Dalam Bacaan Al- Qur’an

(Foto ilustrasi - Hajinews)
(Foto ilustrasi - Hajinews)

Oleh: Imam M.Nizar. S,Pd.

“Tradisi” awal Ramadan masjid- masjid ramai oleh para jema’ahnya, bahkan luber ke luar pagar untuk membentuk saf-saf baru agar jema’ah tertampung. Sedihnya, ketika hujan mendadak turun — meski sudah dipersiapkan tenda dan antisipasi lainnya. Sedih mendadak pun merambat turun ke dalam hati.

Lebih sedihnya lagi, ketika makmum berdiri dalam saf-saf tarawih, di antara cahaya lampu masjid dan desir kipas yang berputar pelan, ia, mereka datang membawa harap: ingin tenggelam dalam lantunan ayat-ayat Allah. 

Namun, harapan itu mendadak retak, ketika imam yang memimpin sholat,  bacaan ayat-ayat Al-Qur’an kurang fasih, bahkan keliru dalam letak makhroj dan tajwidnya. 

Hatinya sedih, bukan karena hujan mendadak turun di luar masjid. Bukan karena itu. Juga, bukan karena ingin menghakimi, tetapi karena ia rindu kesempurnaan bacaan yang seharusnya menjadi mahkota ibadah pada malam Ramadan.

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, surah Al-Muzzammil ayat 4 

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ 

“atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” 

Ayat ini bukan sekadar perintah teknis membaca perlahan dengan tartil. Ia adalah perintah menghadirkan kehormatan pada kalam Ilahi. Tartil adalah bentuk adab. Tartil adalah tanda bahwa manusia sadar sedang berhadapan dengan firman Rabb-nya. 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitabullah.”

(HR. Muslim ibn al-Hajjaj) 

Hadits ini meletakkan standar: kefasihan dan ketepatan bacaan adalah prioritas dalam kepemimpinan sholat. Karena imam bukan sekadar berdiri di depan, ia memikul amanah spiritual seluruh makmum. Setiap huruf yang ia ucapkan, setiap panjang pendeknya bacaan, menjadi tanggung jawab di hadapan Allah. 

Namun, di balik kesedihan itu, makmum yang arif menahan diri dari celaan. Ia teringat pesan para ulama tentang adab hati. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menekankan bahwa hakikat ibadah bukan hanya pada gerak lahiriah, tetapi pada hadirnya hati (hudhur al-qalb) 

Bacaan yang indah tanpa hati yang khusyuk hanyalah suara. Sebaliknya, hati yang hidup meski dengan suara sederhana tetap bernilai di sisi Allah. Namun, idealnya keduanya berpadu: kefasihan lisan dan kekhusyukan batin. 

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

Kesedihan makmum itu pada akhirnya berubah menjadi renungan. Mengapa di masjid yang megah, dengan kubah menjulang dan pengeras suara canggih, pembinaan bacaan Al-Qur’an belum menjadi prioritas? Mengapa pembangunan fisik berjalan, tetapi pembangunan kualitas imam dan generasi Qur’ani seolah tertinggal? 

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. Muhammad al-Bukhari) 

Hadits ini adalah filosofi peradaban. Masjid bukan hanya tempat ritual, tetapi pusat kaderisasi ruhani. Imam yang fasih tidak lahir tiba-tiba — ia tumbuh dari budaya belajar, dari halaqah yang hidup, dari kesungguhan membina generasi. 

Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah kesombongan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Maka, memimpin sholat tanpa kesungguhan memperbaiki bacaan adalah bentuk kelalaian terhadap amanah ilmu. Namun mencela tanpa solusi juga bukan akhlak Qur’ani. 

Makmum yang sedih itu akhirnya memilih jalan yang lebih mulia: Mendo’akan imamnya, menguatkan tekad untuk ikut serta memperbaiki keadaan, dan mungkin suatu hari dapat membantu menghadirkan pelatihan tahsin dan metode tamyiz serta pembinaan imam. Karena dalam Islam, kritik terbaik adalah yang melahirkan perbaikan. 

Kesedihan itu menjadi doa:

Ya Allah, jadikan masjid kami bukan hanya indah bangunannya, tetapi juga indah bacaan Qur’annya. Jadikan imam-imam kami hamba-hamba yang Engkau pilih karena kefasihan dan ketakwaannya. Dan jadikan kami makmum yang bukan hanya pandai menilai, tetapi juga siap memperbaiki. 

Sebab, pada akhirnya, sholat berjamaah adalah cermin umat. Jika bacaan di depan lemah, mungkin pembinaan di belakang juga lemah. Dan Ramadhan datang bukan sekadar untuk menambah rakaat, tetapi untuk memperbaiki kualitas ibadah—lahir dan batin. 

Di antara lantunan yang kurang sempurna itu, makmum belajar satu hal: bahwa mencintai Al-Qur’an berarti juga mencintai proses memperbaikinya. Dan mungkin, dari kesedihan itulah, lahir kebangkitan kecil yang kelak menjadikan masjid kembali sebagai pusat cahaya wahyu. (KH/***)