KABARHIBURAN.ID – Sineas senior Adisurya Abdy selaku Ketua Umum Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia (PATFI), menggelar Dialog Estetika dan Budaya dalam Film Indonesia, di DIKOTA Backyard Bar and Cafe, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (15/12/2025).
Acara dialog yang didukung Direktorat Film, Musik, dan Seni, Kementerian Kebudayaan RI itu mendapat respon positif dari peserta yang hadir.
Mereka yang hadir dari kalangan sineas muda, produser, dan para penggiat perfilman Indonesia lainnya.
“Dialog seperti ini seharusnya sering dilaksanakan, karena penting untuk menyegarkan kembali pikiran. Dan juga sebagai evaluasi para sineas, sudah sejauh mana melangkah dalam koridor estetika dan budaya kita,” kata Masdjo Arifin selaku pengamat budaya dan film dari Komunutas Budayantara.
Dalam kata sambutan pembukaan dialog, Adisurya Adisurya Abdy mengajak narasumber dan para peserta dialog yang hadir untuk memberi tanggapan terkait sejauh mana dan seperti apa estetika dan muatan budaya dalam film Indonesia.
“Ketika bicara estetika, ukurannya apa? Dari aspek budaya, paling tidak film- film Indonesia memiliki identitas yang mencerminkan yang kita punya,” kata sutradara dan produser serial Buku Harian, tayang di SCTV itu.
Selanjutnya, Adisurya Abdy yang kerap aktif di berbagai festival dan forum perfilman internasional mengajak untuk berdialog.
“Jadi, forum ini bukan seperti antara siswa dan guru. Mari kita bicarakan secara terbuka, kritik, gagasan, dan ide-ide dipersilahkan disampaikan secara terbuka,” tambahnya.
Sementara itu, M. Sanggupri Bochari, M.Hum, Pamong Madya Bidang Perfilman, pada Direktorat Film, Musik, dan Seni, Kementerian Kebudayaan RI, mengatakan bahwa forum forum dialog dan diskusi mengenai perfilman mempunyai arti penting dalam turut memajukan perfilman nasional. Termasuk di dalamnya musik dan seni lainnya.
“Karena melestarikan budaya Indonesia salah satunya melalui media film,” ujarnya.
Sanggupri mencontohkan film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel itu menggambarkan lanskap budaya Indonesia dengan baik.
“Dari film itu kita mengenal pulau Belitung yang indah, dan punya daya tarik wisata dan akhirnya menjadi objek wisata,” jelasnya.
Dia juga mengutarakan cerita film Aisha Biarkan Kami Bersaudara dengan pemeran utama Laudya Cynthia Bella.
Film itu menggambarkan geogragis Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui film itu diperlihatkan budaya kita sangat kental dengan toleransi.
“Kita bisa lihat sinergi antar beda suku dan agama tergambar dalam film itu,” kata Sanggupri yang pernah bertugas di Lembaga Sensor Film dan Pengembangan Perfilman di Kemendikbud.
Sementara itu, dua narasumber yang dihadirkan dalam dialog kali ini, adalah Satrio Pamungkas, M.Sn., yang merupakan dosen tetap di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Di IKJ, ia mengajar mata kuliah Kewirausahaan, Magang/Stase, dan Sejarah Film Indonesia.
Dengan latar belakang pendidikan S2 IKJ dan S3 (Doktor) dari Universitas Indonesia (UI) yang diraih tahun 2025, Satrio Pamungkas juga sebagai praktisi dan konsultan di industri kreatif.
Narasumber berikutnya adalah Ivan Bandito, sutradara film Indonesia yang dikenal dengan karyanya di FTV, iklan, video klip, dan film layar lebar, termasuk film “Kau & Dia” (2022) dan “Anak Medan” (2023).
Saat dialog, keduanya memaparkan perlunya kesadaran bersama untuk memenuhi syarat estetika dan budaya. Namun, memang itu mudah diucapkan dan agak sulit prakteknya.
Ivan Bandito mengaku mengalami kesulitan untuk menangkap estetika dan budaya yang agak dalam dan detail. Ketika menggarap film Anak Medan, dia hanya diberi waktu 10 hari untuk meriset.
“Sangat sedikit yang saya dapat dalam menggali budaya orang Medan secara detil dan optimal. Akhirnya yang tergambarkan dari hasil 10 hari itu yang jauh dari sempurna,” kata Ivan yang pernah menggarap film Carok berlatar belakang budaya Madura.
Pengalaman Ivan, untuk memproduksi film yang kental dengan budaya masih sedikit sekali yang berani.
Berbeda dengan sutradara yang membawa cerita horor atau komedi, pasti banyak peminat dan produser banyak yang mau membiayai.
“Saya pernah menggarap film budaya Dayak, sudah ada investornya. Ceritanya mengangkat budaya dari beberapa suku Dayak. Produksinya terhenti karena uangnya digunakan pilkada, dan kalah,” ungkap Ivan.
Sementara Satrio Pamungkas memaparkan perlunya riset budaya yang mendalam dan detail. Tujuannya, agar apa yang digambarkan dalam film bisa diserap secara utuh oleh penonton.
Dalam teori identitas, bagus tidak bagus atau bahagia tidak bahagia. Dia mencontohkan seperti film India yang suka dihina.
“Sedih atau senang ketemu pohon nyanyi, gaunnya Sari, seperti itu saja. Begitu juga dengan aparat kepolisian bernama Vijay dan penjahatnya tuan Takur. Tapi, itulah identitas film India. Lalu, apa yang kita lihat di film nasional. Tidak jelas identitasnya. Merumuskan film nasional itu konkretnya seperti apa, kita masih gagap,” ungkap Satrio. (KH/***)
