KABARHIBURAN.ID – Dunia maya tengah dihebohkan oleh video eksplorasi dari kanal Ghost Ranger Indonesia yang menelusuri legenda kelam “Wayang Kulit Manusia.”
Dalam video berdurasi hampir satu jam itu, tim Ghost Ranger mendaki lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, mengeksplorasi lokasi yang disebut menyimpan artefak wayang berbahan kulit manusia.
Adegan pencarian malam, interaksi dengan warga sekitar, dan atmosfer sinematik menyeramkan membuat publik penasaran.
Cuplikan video tersebut menembus ratusan ribu view dalam 48 jam, dan potongannya viral di TikTok, X, serta Instagram Reels.
Namun, riset akademik Otok Herum Marwoto (2012) dalam jurnal “Wayang Kulit Manusia: Antara Mitos dan Kenyataan” menegaskan bahwa semua wayang yang pernah diuji laboratorium terbukti dari kulit binatang, bukan manusia.

Meski fakta ilmiah menolak, mitos tetap hidup di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Timur. Kisah tentang dalang yang “menyatu dengan bayangan” dianggap bukan sekadar horor, melainkan simbol hubungan manusia dengan sisi gelap dirinya.
“Cerita seperti ini bukan cuma soal takut, tapi soal rasa ingin tahu,” ujar Dwi Antoro, peneliti budaya UGM.
Lonjakan minat ini menunjukkan bagaimana algoritma digital mampu menghidupkan kembali mitos lama ke dalam ruang budaya populer.
Kajian Maulida Afifa Tri Fahyani dari ISI Surakarta mencatat bahwa mitos tersebut mencerminkan spiritualitas ekstrem: keinginan manusia untuk “menyatukan diri dengan bayangan”.

“Legenda ini dulunya bukan kisah darah dan teror, tetapi simbol spiritual tentang manusia yang mencoba memahami bayangannya sendiri,” katanya.
Sedangkan menurut Ki Bayu Adi Wicaksono, dalang muda asal Yogyakarta, wayang itu selalu dua sisi: terang dan gelap, doa dan dosa.
“Dan mungkin itu sebabnya cerita ini tidak pernah mati,” ujarnya.
Kini, Ghost Ranger bukan hanya membuat konten horor — mereka membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana mitos kuno bisa hidup kembali di tangan generasi digital.
Antara dokumentasi dan spiritualitas, video ini membuktikan satu hal: budaya gelap bisa viral tanpa kehilangan maknanya. (KH/ian)
