Oleh: Anne.Y.Wachyuni
KABARHIBURAN.id – Malam itu, di kaki langit yang disinari cahaya bulan sabit, bebatuan purba bersuara. Bukan karena longsor atau gempa, melainkan karena tangan-tangan manusia yang menghadirkannya kembali sebagai nyanyian. Nada-nada lahir dari batu, bergerak seiring tarian, terpantul dalam cahaya, lalu membentuk harmoni yang menggetarkan hati.
Itulah “Breksi Bernyanyi” — sebuah pertunjukan seni yang tak biasa — digelar di amphitheater Tlatar Seneng, Tebing Breksi, Yogyakarta, pada Minggu malam (29/6/2025).
Pertunjukan ini mengajak penonton menyelami keindahan tebing bukan sekadar sebagai lanskap alam, melainkan sebagai ruang cerita, ruang hidup, bahkan ruang kontemplasi.
Dibalik ukiran alam yang kokoh, tersembunyi bisikan kisah tentang tanah yang ingin didengar. Bukan gema angin atau deru mesin, tapi suara yang timbul dari kesunyian.
“Kami ingin batu-batu ini bernyanyi,” ungkap Dr. Memet Chairul Slamet, sang komposer kontemporer lulusan ISI Yogyakarta yang menjadi motor utama musikal dalam pertunjukan ini.
Dr. Memet bukan menciptakan nada dari piano atau gitar. Ia membangun komposisi dari bunyi batu-batu Breksi. Lempengan batu dipukul, digesek, diketuk dan hasilnya adalah simfoni yang tak biasa, didengar dalam pertunjukan orkestra pada umumnya. Musik eksperimental yang mengundang decak kagum, namun tetap mengalir lembut seperti tanah yang bercerita pada akarnya.

Agung Gunawan, koreografer kenamaan, menyulap arena pertunjukan menjadi ruang yang penuh nyawa. Penari Krefianto dan Nabila Rifany bergerak anggun dan gagah — bak dalam tarian jawa pada umumnya dengan tempo lambat — dalam koreografi yang bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi seolah percakapan batin antara manusia dan bumi.
Sementara narator Lisa dan Joko menyulam kisah dengan kalimat-kalimat puitis yang mengalun pelan, seperti dongeng dari masa lalu. Hal ini, diungkap dalam prolog di awal pertunjukan.
Bukan hanya pekerja seni yang tampil, pada malam itu — semua wisatawan yang hadir adalah bagian dari pertunjukan. Batu tak bisa bernyanyi sendiri. Ia butuh tangan, butuh rasa, butuh hati.
Dan benar saja, pertunjukan ini menjadi ruang kolaborasi yang hidup. Di tengah acara — pengunjung diberi lempengan batu selebar telapak tangan dan batu kerikil sebagai alat pukulnya. Mereka diajak menabuh, menciptakan nada sederhana. Tak ada partitur, hanya rasa. Irama pun lahir dari kebersamaan: batu, manusia, dan langit menyatu. Alam semesta seolah merestui malam penuh syahdu dan hikmat itu akan menjadi “buah tangan” dalam ingatan wisatawan yang hadir.
Puncak acara ditandai dengan ajakan melantai, menari bersama di pelataran. Tawa, gerak bebas, dan lampu-lampu yang menyinari tubuh penonton membentuk bayangan-bayangan yang menyatu dengan dinding tebing.
Momen ini bukan hanya pementasan, tetapi selebrasi: bahwa seni adalah milik semua, bahwa batu pun bisa menyampaikan rasa jika diberi ruang. Seperti halnya, manusia.
Menurut pengelola Tebing Breksi, pertunjukan ini baru digelar dua kali—pada Mei dan Juni. Namun, antusiasme pengunjung membuat mereka berharap acara ini bisa menjadi agenda rutin.
“Ini bukan cuma hiburan. Ini pelestarian. Ini edukasi. Ini napas baru bagi kawasan wisata,” ujar salah satu pengelola.
Lebih dari sekadar pertunjukan, “Breksi Bernyanyi” adalah panggilan. Sebuah ajakan untuk mendengar suara alam, untuk menyadari betapa setiap unsur tanah menyimpan pesan yang tak pernah usang: tentang kesetiaan, kerja keras, cinta pada bumi, dan kerendahan hati manusia dihadapan ciptaan Tuhan.
“Breksi Bernyanyi” adalah wujud nyata bagaimana seni mampu menjadi jembatan antara warisan alam dan kesadaran manusia modern. Sebuah orkestra dari batu, ditabuh oleh harapan.
Dan malam itu, batu benar-benar bernyanyi. Serta, penuh harap kedamaian. (KH/***)
